oh dear, I begin to fade-away every single thing!

When the going gets tough.. tough gets going!

Posted by: cippitywitty on: Januari 17, 2008

foto-004.jpg

Jumat kejepit lalu saya menemani seorang kawan mengurus dokumen polisi krn dia berencana berimigrasi ke Negri Kangguru. Sudah lebih dari dua pekan sebelumnya kawan itu memberitahu niatannya & minta saya mencari informasi yg diperlukan. Dia bahkan dg antusias (dia selalu antusias, FYI) sudah mendiskusikan “hadiah” yg pantas untuk diberikan ke oknum polisi yg bisa melancarkan proses pembuatan dokumen tersebut.

Saya sebenarnya tidak sepaham dg cara lama yg ingin ditempuh kawan saya. Maksudnya, ayolah! Kita selama ini berkoar ttg buruknya mentalitas anggota jajaran pelayanan masyarakat yg sangat mudah (dan katanya malah minta) disogok. Tapi kita sendiri juga menjadi bagian dari “masyarakat setuju tindakan menyogok” itu. “Elu jgn terlalu idealis gitu. Gue kan butuh cepat, gue cuma bisa menyediakan 1 hari aja. Pasti mereka minta waktu panjang. Malas deh bolak-balik Jakarta-Singapur hanya utk urus masalah ginian,” begitu kira-2 argumen dia. Dilematis.

Akhirnya hari-H tiba. Sebelumnya kami mendapat informasi dari kawan lain bahwa lebih baik tidak mengurus dokumen itu di Komdak krn bakalan berbuntut kekecewaan (atau uang sogok yg terlalu tinggi). Maka kami sepakat pergi ke Polsek Bekasi. Di sana, kami ditolak mentah-mentah krn “salah alamat kelurahan asal KTP & tidak berpenampilan sopan”. Well, kawan saya memang bukan penduduk Bekasi Barat spt saya, dan hari itu dia berpakaian “seadanya”—atasan sleeveless, bawahan celana ¾. Maka kami mencoba “banding” dg pergi ke Polres Bekasi. Namun, di sana aksi penyogokan kami tidak juga berhasil. Selain petugas pelayanan yg terlihat “bersih”, sistem pencatatan juga sdh terkomputerisasi. Pastilah sulit utk “nakal” dg pengelolaan data yg demikian.

Waktu itu kawan saya sudah patah arang. “Yah, gue balik ke Singapur aja. Mungkin surat dari kepolisian sana saja sudah cukup,” helanya miris. Saya tidak setuju. “Elu, ih! Sampai sini dari jauh, mana udah banyak pengorbanan, eh menyerah begitu aja? Nggak bisa. Ayo kita urus sesuai prosedur. Kita masih punya waktu sblm masuk waktu sholat Jumat!”

Maka dua perempuan berzodiak sama (sama sekali nggak relevan hehe) itu pun ngacir ke area Pondok Gede. Kawan saya sudah ketakutan ditolak lagi. Nggak tahu kenapa saya merasa ada desir kelegaan & tentu justifikasi atas penolakan-penolakan yg kami dapatkan di siang hari nan terik itu. “Sudah saatnya,” gumam saya. Hanya saya berharap prosedur keras ini dilanjutkan dg sistem yg lebih sederhana & ringkas, alias terpadu. Seperti satu kartu perizinan utk KTP, sekuritas sosial, wajib pajak, dll. Satu kartu aja, biar dompet tidak sulit diselipkan ke kantung celana atau rok.

Lanjut ke perjalanan pembuatan SKCK (gosh, saya baru tahu termin itu eksis di masyarakat kita!), sesampai di kelurahan yg letaknya membentuk formasi segitiga bersama kantor Militer dan Polsek Pondok Gede, tantangan masih harus kami terima. Ternyata kelurahan itu tutup krn cuti bersama! Hahaha, kantor pelayanan masyarakat kok cuti bersama? Kami lalu menyeberang ke Polsek. Di sana kami disyaratkan utk membuat Surat Keterangan Meminta SKCK dari kelurahan. Kawan saya yg sudah memakai baju rangkap agar terlihat lbh sopan, langsung mati gaya. Kendali saya ambil. Saya bilang ke bu polwan, kelurahan sdh kami tandangi namun mrk cuti bersama. “Kawan saya harus segera mendapat SKCK, tapi hanya punya waktu hari ini. Jadi tolong persyaratan fisik yg diperlukan bisa dilakukan sekarang. Senin besok saya akan urus surat dari kelurahan dan menyerahkannya ke ibu.”

Bu polwan melihat saya. Wajah saya berubah so angel-likely (pheww!). Lalu dia mengeluarkan blangko isian yg segera diisi kawan saya. Dg tekun dia menulis informasi (yg kebanyakan klise & tidak informatif, hehe), sebentar-2 mengkonfirmasikan sesuatu, lalu kembali terbenam dalam alam pikirannya sendiri. Tak lama, selesai. Lembaran itu berpindah tangan, beserta copy KTP & 3 lbr foto. “Fotonya ukuran 4X6. Ini 3X6, masih salah!” tegur bu polwan. Waduh. Saya lalu menarik teman saya, mengajak keluar kantor polisi utk ngaso sejenak. “Gue butuh teh botol dingin,” kata saya sambil melempar pandangan ke sekeliling. Ada cool box teh botol di depan sebuah warteg! Yippee..

Setelah menghisap isi 2 botol (sementara kawan saya sumringah menghabiskan sepiring nasi plus lauk-pauk setelah melihat aneka masakan warteg yg katanya sdh seabad tidak dia rasakan), kami kembali ke kelurahan. Di sana ada Pak Edi “somebody” yg katanya bersedia membantu membuatkan surat kelurahan Senin besok. Maka saya putar otak utk mendapat pas foto ukuran 4X6 dg cepat. Ah! Rental komputer. Saya tarik kawan saya kesana. Pas foto berukuran salah itu lalu saya minta dipindai & dicetak di kertas foto dg ukuran yg seharusnya. Voila, Zip-boom-bang! Kami skrg punya tidak hanya 3 lbr, tapi 9 pas foto! Tres bien. Thanks to the advance, cheap and compaq technology.

Kami kembali ke kelurahan. Saya serahkan semua persyaratan ke Pak Edi somebody, sambil titip uang pelicin sebesar dua puluh ribu. “Tolong ya, pak?” pesan saya. Pak Edi somebody mengerling ramah. Asli ramah khas para petugas di area pelayanan masyarakat yg seringnya terasa “cunihin”. Ah, gara-gara saya juga sih!

Lega. Paling tidak kawan saya dahinya sudah tidak berkerut & otaknya lebih order meski kurang tidur krn tuntutan pekerjaan. Tinggal saya yg diam-diam mengatur strategi agar Senin besok bisa mampir ke Pondok Gede & tetap tidak telat sampai kantor…

What’s new in November this year? Me!

Posted by: cippitywitty on: Desember 26, 2007

[This post supposed to be appeared last month] 

Oh dear, what can I say? Today’s my (another) birthday. It was somehow a regular day, except for some surprise sms I got eaaarly in the morning (at 00.00). Always did, this time was Buyay. After that I received a late reply from D3wi regarding PRUlink I offered her, then my big sis greeted me (it’s so sweet of her). Inae became the next greeter, sending me an unopen MMS (sorry dear, I haven’t installed my MMS system). Ria called me, whoa it’s a nice conversation considering in the first 2 minutes I still couldn’t figure out who she was (LOL). She sounded like Eka Monet, even worse I firstly thought she was mba Ina! Wahaha… Mba Ina eventually called a minute before I walked into meeting room. A while before, my colleagues awaited with joy for me. Of course it’s because their lunch today depended so much on my treat, hehehe.. Then I got many presents from them, I think they love me after all. Thanks, buddies! We had a lunch buffet from Ampera, Sundanese style, that definitely wrecked my whole purse (as every one figured). Bu Tuti from Happy Holly Kids was in the house, she got her free meal as well. The best part of today was when Frisca called and asked if I could come for Dorky Park’s in Art Summit. Simply irresistable, yummy! She gave me 6, even more entrance tickets to attend the show. Jes couldn’t make up my mind who I will take with me that night..

Patologi Akut Berkomunikasi: Iya, Tapi Tidak

Posted by: cippitywitty on: Desember 12, 2007

candle.jpg

Wabah penyakit akut orang-2 di sekitar saya: bilangnya iya, tapi dalam hati tidak tulus mengiyakan, alias ragu-2. Akhirnya, pengingkaran persetujuan. Tanpa berdosa mengulang kata-2 pamungkas, “Maaf ya, ternyata aku nggak bisa..” dan melenggang pulang.
DZIG! Kenapa orang-2 yang secara pangkat, status & umur sudah bisa dibilang ‘mapan’ itu tega mengoyak hal prinsip & asasi setiap manusia: kepercayaan & harapan?
Tahukah mereka bahwa satu kata afirmasi hasil dari pertanyaan tertutup itu bagi sebagian orang (termasuk saya) menjadi pedoman, pegangan, PEMICU KESEPATAN, ekspresi oral yang menimbulkan rasa aman & nyaman?
Bedebah. Mungkin selama ini mereka mendapatkan semua hal dengan menipu, diwariskan, atau merampok. Makna sebuah kata begitu sering dirusak, dianiaya, dibuat impoten, menjadi absurd.
Tak heran generasi bangsa ini secara ajaib memakai istilah-2 yang tidak pada tempatnya, semata-2 karena ingin terdengar “hebat”. KBBI menjadi hiasan rak buku. Hasil penelitian cerdik-pandai tidak lagi menjadi acuan karena buta & minder dengan istilah ilmiah. Bangsa ini akibatnya mudah dibohongi tetangga sebelah yang lebih melek hukum…
Tampaknya arti kepercayaan kini sudah bernilai rendah. Atau mereka memang sudah tidak punya kepercayaan terhadap diri mereka sendiri? Padahal esensi hidup ini tentang menjaga kepercayaan.
Ya, tapi tidak. Dahsyat sekali dampak kata itu. Ya, tapi tidak. Harusnya saya selalu membawa tape-recorder untuk menjaga janji lawan bicara saya, dan tentunya saya sendiri. Ya, tapi tidak. Seharusnya tidak ada komentar permisif bahwa insiden berkomunikasi seperti itu lumrah karena warisan budaya Jawa (oh, tolong!). Kalau perlu, ada hukuman berat atau denda besar bagi para pelakunya. Biar kapok.

Incidental Reunion

Posted by: cippitywitty on: Oktober 9, 2007

scorpio

Ciptanti,
Your choice of clothes could attract the wrong kind of attention. What seems ordinary to you might be considered scandalous to someone else, and for completely ridiculous reasons.

I VISITED LUKMAN last Sunday in his residence in Jalan Gotong Royong, Ragunan. He got a serious illness, some brain’s vein disorder. I received a short message from Handi regarding his illness. It stroke like a thunder, I felt deeply sad for Lukman. He is such a good person, a bold young man. He was my junior mate in IKIP. We mingled well and actively involved in our campus youth organization, HIMA. With his less fortunate appearance–his right-side face is wrecked of childhood accident–Lukman became the #1 person who led the organization in his second year. He has a positive attitude and confidence, that’s special. We also had this business arangement couple of years back, regarding a marketing book translation with Indeks Publishing. Unfortunately he couldn’t meet his best performance since he got more tempting work offer from EU. So he transferred the project to his wife whose level is below my expectation. I kinda disappointed to Lukman at that moment.

I haven’t heard anything from him ever since. Then there was the news from Handi. I asked him whether I could join him (and his ‘94 mobs) visiting Lukman. Well who couldn’t resist my wish? Hehehe. So I called for Dani at Pasaraya that Sunday, and met Handi in Warung Buncit. We waited for Yayan while having Dohr prayer and together hitched our automobiles away to Lukman house.

When we arrived, there were some companies like Wiji, Nana and Toni of 94 around Lukman and his wife. Dani mentioned her as “sabar, berbakti kpd suami kinda-wife”. Can’t argue her though. At that day Lukman definitely looked like himself, jes a bit fatter. Until he spoke with this unfocus sight, I finally realised his condition is dropping down to the bottom line. This “giant acme” inside his brain has endangered his conscious and had troubled his eyesight. He mentioned at that time he had lost his left-eye sight and practically blind. It was a terrible thing to happen, but he told his pain in a very casual way, no regret or sorrow. I really admire this young man..

Meanwhile, this visiting event was completely accomodated every one’s expectation. Since we haven’t seen each other for almost 10 years or so, there were many updating news we shared. Yayan has a daughter from her previous marriage (she’s divorced), and still lives in Pramuka. Toni has moved to Reuter’s, owns a Hyundai’s Getz, and stays in an apartment in Kelapa Gading with his wife and daughter. Nana, well he said “he’s still in previous school” which I forgot where (LOL). I barely asked him since he seemed so convince that I knew it. Wiji just starts her new career in mbak Esti’s Exxon office in GKBI and she believes it’s for good. I missed to see other 94 gals, but Wiji told me everything. That’s enuff for now. Ah I forget one person; Handi. Dani’s description over this good fellow: handy (helpfull?) yet busy and quite successful mate with high phone-calls intensity (that’s why he needs this bluetooth gadget in his ear, she said). We met firstly after a long period in Gramedia bookstore when I engaged an ‘unsuccessful’ DM session last July. He gayly greeted me, it was a shocking. He’s a bit fatter, but mostly do not change a lot. I guess only me and Dani who dramatically switch our outter look. Dani, by nature. Me? Superficially. Haha.

Tag:

what’s this life?

Posted by: cippitywitty on: Oktober 9, 2007

scorpio Ciptanti,
Strive to get your finances in order, as now is the best time of the year to organize your wallet. A chance to communicate with someone who was once in your shoes arises. Take the opportunity for a deep personal self-examination.

I was out with cuz Atiek last Sunday. It was a moment to treasure; I enjoyed every second of it. She stays with her friends in a rented house in Tegal Parang, I think it’s a cool place to live in. She jes came back from Manokwari, from a project of Komnas HAM, and left her a high piles of homework. Scripting tapes. Sucks. So I saved (abducted) her and made her day.

We began the journey to chew sate ayam in front of RSPP. God gracious, we weren’t only had the juicy barbeque but also the rich, barbeque style smokey smoke. I paid Rp 34,000 for 20 skewers of chicken barbeque and 4 lontongs, and 2 bottles of cold Teh Sosro. Affordably tasty. Btw, there was this silly incident taken place after we loaded up our tummies. It’s one of my lousy, worn-out memory trouble-some of keeping the extra car’s key. I thought I put it inside my pocket whereas I was cross-checking couple of times and almost wrecked it in panic. Cuz Atiek was suspicious it fell down into my anyaman bag. I insisted I might have left it (again) in my main car-key’s dompet which I snugged inside the cabin self. O dear, I did it again! Sounds like Britney Spears (*duh*). We were both shaky and I felt stupid. “Try dig out your bag, sis!” she suggested. So I did. And there was this shinny, metal car key stuck amids my pink pasmina, happy house stuff keeper and my purse. What a relief! Then without any further ado, we moved on to Gramedia Bookstore Blok M, I parked my Starleto in Pasaraya. I was a bit seducted with these racks full of lovely Kebayas. No, no! You jes spent lots yesterday, remember? And how about that trip you plan to do with Dani? It’ll surely cost you big.

We reached the ground floor, had a zig-zag walk through this cramped-size, supposed to be pedestrian-path next to Pasaraya building which lately turned into pasar kaget. It’s kinda a new haven of the hippiest, cheapest accessories, made-in China. But it’s no longer my cup of tea. Not that I’m into genuine, branded labels. Positively can’t afford ‘em. Jes that I think I give up spending around and allowing my impulsive drives form me into an accute shopaholic. No more. Yet, we both laughed gayly when we traced these lines of unique stalls. Cuz Atiek gave her short comments or jes made strange voices (noises) in respond of the things she saw, until we realized we almost missed the bookstore. We turned right, there was the gate of the bookstore.

We went to the same racks every time we finished or jes got bored with one rack. Cuz Atiek has a big attention to social and humanity topics besides local literatures. Her long experience and struggle in the world she loves–social works–have embodied such divine and rather idealistic ideas on how this life’s supposed to be. Jes like me, we’re truly devoted no matter what to a better world, in words we understand. Gosh, I think I begin to admire her. She forms herself completely as she is; she’s humble, old fashion, into smoking and black coffee, and definitely financial conscious. I mean, I fail to keep myself as I am sometime, and honestly at the end I feel bad about it. Cuz Atiek is strictly confident about herself and her decision on anything. That’s rare in a person. At least for me it’s a special quality that requires hard-work and persistancy.

We landed in Starbuck’s after those hippy, tiring rack-to-rack blast. Caffeine for her, I prefered this creamy hot chocolate with caramel syrup. I knew we’re gonna have a long conversation, and she’s very deep into it. She got me amazed with her heart-thumping stories, I wish we could have all the time in this world that night. I’m glad we’re sister, cuz!

kemerdekaan itu

Posted by: cippitywitty on: Agustus 30, 2007

Sabtu lalu aku diundang meliput acara pesta kemerdekaan di Twinkle Stars Preschool-Cipete. Setelah tempo hari aku datang ke acara tutup tahun mereka di D’Best, aku jadi akrab sama para guru di sekolah itu serta Bu Lely, Principal-nya. Tapi Sabtu itulah kali pertamaku berkunjung ke TK yang aku pikir venue-nya mewah bak Cikal atau Kinderfield. Secara pas perpisahan, murid-murid dan orang tua yang hadir rata-rata orang asing dan kelompok masyarakat yang terlihat gaya hidupnya di atas kelas menengah. Ternyata gedung sekolah ini “standard” hommy, bahkan kurang representatif. Letaknya di pengkolan, daerah elit sih. Tapi kontras aja gaya sederhananya dengan lingkungan yang jelas mewah itu. No wonder Bu Lely has considered to move out the school into a new, better location I’m told.

Basically acara hari itu berisi lomba-lomba ala 17-an dan aksi panggung murid-murid Twinkle Stars. Aku direkomendasi datang sebelum pukul 8 oleh mbak Tuti, karena mereka mau memperlihatkan aksi senam aerobik yang terdengar seru. Tapi akibat hal teknis yang kurang diantisipasi dengan taktis jadinya aku baru sampai pukul 8.30, aerobiknya sudah selesai. Begitu aku datang, Bu Lely langsung menyambut dengan hangat. Rambut sasaknya masih teteup, kali ini di highlight-nya merah menyala. Matching banget dengan eksterior setiap orang hari itu yang berusaha tampil “merah-putih”. Nggak ketinggalan: cincin super blink-blink, paling engga 10 karat deh. Mana ukurannya segede-gede kacang mede, surely stands out among the crowd! Mama-papa yang hadir juga berusaha “kelihatan” dengan caranya sendiri. Btw since this one is an A-level institution, parents are mostly “the-haves” and apparently they concern much to their appearance. So there those manly, clean-shaved, handsome men with latest gadgets stood side-by-side with me. Tough condition, hehehe.

Ada hal yang menarik waktu aku perhatikan bagaimana reaksi anak-anak TK selama acara diselenggarakan; these kids kinda having slightly different passions to August games compare to previous generations. Sementara para guru dan ortu begitu semangat berteriak dan berpartisipasi, anak-anak ini seakan-akan bingung, nggak napsu, dan justru terperanjat melihat orang-orang dewasa di sekitar mereka melompat-lompat karena gemas. Sedari etape pertama–mereka berlomba memasukkan batangan kayu yang di ujungnya diikatkan bendera dwi-warna ke botol berhias merah-putih–sampai ke permainanan yang terakhir–menjadi sasaran para orang tua yang matanya ditutup dengan kain dan tangannya mencoba menyuapkan pisang ke mulut anaknya masing-masing–nggak terlihat tuh ada anak yang antusiasmenya tulus. Bener-bener beda sama masa gue seumur mereka dulu..

Anak-anak orang kaya ini jelas nggak punya semangat berkompetisi, keinginan untuk jadi juara, atau sekadar ‘banci tampil’. Mungkin pikir mereka, ‘kenapa harus capek-capek melakukan hal-hal bodoh untuk hadiah yang tidak seberapa itu?’. Ortu mereka pasti mampu membelikan yang lebih bagus. Nggak capek, cukup dengan one whinning-act to their folks, then voila! They got everything. Padahal semangat berkompetisi dan pengalaman berproses dalam usaha mendapatkan sesuatu adalah nilai penting utama dari kegiatan tujuh belasan ini. Apalah arti kemerdekaan sebagai simbol suatu titik akhir yang didamba semua orang kalau generasi muda bangsanya tidak mewarisi getar proses perjuangan mendapatkannya? Hehehe sounds like I was on of those pejuang deh…

Itulah kenyataannya, arti dan semangat kemerdekaan tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang perlu disyukuri oleh generasi di ujung kesekian ini. Para eks- pejuang Indonesia rata-rata sudah sedha, dan kalaupun ada ya sudah ‘tulalit’, jadi tidak bisa lagi menyampaikan cerita-cerita kepahlawanan dengan napas yang beraroma ‘patriotik’. Sementara anak-anak mereka mungki sudah pekak dengan kisah-kisah perjuangan orang tua mereka sehingga “ill-feel” untuk menceritakannya lagi ke next offsprings. Akibatnya arti ‘merdeka’ menjadi langu, laksana orang di negara tropis memikirkan rasa salju. Absurd. Ditambah lagi kurikulum sekolah kita tak pernah menyinggung skema mendidik anak agar berpikir pada level kritis. Mereka tidak pernah dirangsang mencari makna kata; yang mereka tahu adalah membentuk kata dalam rangkaian yang betul dan ’sophisticated’. Sebodo dengan arti kata, yang penting kalimatnya terdengar hebat dan disesaki kata-kata yang canggih. Yang lebih gila sekarang anak-anak TK dipaksa berbicara dua-bahasa sehingga mereka tidak memiliki pondasi bahasa yang kuat karena harus mengejar kepandaian di dua bahasa itu. Seperti di Twinkle Stars ini, beberapa anak berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan ortunya yang notabene berkulit sawo matang itu. Ah kenapa jadi ngelantur sejauh ini yah?

Yang pasti kemeriahan acara di pagi hari sampai menjelang siang itu cukup mengharukan dan tak lepas dari bidikan semua jenis kamera dan videocam yg digenggam hampir setiap ortu. Anak-anak padat gizi yang sebagian wajahnya campuran bule itu pun tertawa-tawa gembira saat naik ke panggung untuk menerima bingkisan dan berfoto bersama. Tak apa-apa jika di rentang usia muda mereka tak pernah paham arti merdeka, tapi jelas mereka menikmatinya setiap hari. Semoga kelak ada ygn menjelaskan dengan benar apa itu kata ‘merdeka’ sesungguhnya.

gempa bumi

Posted by: cippitywitty on: Agustus 20, 2007

together.jpg09.08.07

09.08.07

Kemarin pagi pukul 12-an a.m. terjadi gempa di Jawa.

Nggak ada tanda apa-apa, bahkan hari itu aku lagi diliburkan karena pilkada DKI Jakarta & seharian bebersih rumah karena petangnya ada forum keluarga Mama. Setelah itu menyelesaikan sisa materi buku LouAnne Johnson yang belum (juga) diselesaikan Dani. Nggak nyangka, tapi aku bisa maklum karena beban penderitaan dan cobaan dia juga lagi banyak dan datang bertubi-tubi (I’m standing behind you always, pal). Well, hawanya memang panas sekali, tapi kegerahan itu sudah berlangsung selama dua bulan ini. Aku juga kan habis sakit gejala flu berat dan hampir demam, jadi memangnya merasa gerah terus. I clearly recall it, I was watching “The Transporter”, almost fell asleep, then suddenly I got dizzy–close to nausea. I tried to get up, but I lost my grip and felt the earth’s moving. It scared me! I walked out of my room, met big sis outside then we both starred each other and agreed that there was an earthquake.
I turned on the tv and referred to MetroTV. But instead of having the rapid, brief information of the event, they had a automobile show. SCTV didn’t respond immediately, RCTI frozen their program to this idle warrant of 7.0 richter scale earthquake inside Pangandaran Beach.
It wasn’t as terrible as the one we had couple of years back though. At that moment I was having a meeting in HIMA FPBS room, and I felt someone shook my chair heavily. “Who’s that? Can you see I’m working here?” I remarked rudely. None was replied. Then silent. The room window’s glass suddenly shattered. “GEMPAAA!” somebody shouted. Everybody was panic, but they managed to stay calm and took the procedure right away.
Ndji once told me of her experience when Jakarta was shook for the 2nd time. She was still officed in Multivision Building, 24th floor, she followed the procedure to take emergency stairs instead of the elevator. Imagine, Ndji running down from 24th floor to the ground… unbelievable! No wonder she decided to go home afterwards.
This one is actually scared me a lot since we had this Tsunami’s trauma. I had a silly thought right in the middle of it; which thing will I take first if earthquake “ate” our home? Notebook? Jewelry? Or else?
I realize there’s nothing more important in this life than our own soul. Forget those material things; we’ll eventually depart to His arm without carrying any single thing. Maybe that’s what religion told us not to worship money, fortune, jewelries, or other mortal materials. They cannot save you after all.
So yesterday earthquake was somehow a precious lesson of life for me. It might destroy and ruin everything that one has worked so hard to gain, only in a blink of our eyes. Don’t enslave your life working too much and forget to thank Allah and refuse to share what you’ve got to the needy ones. Simplify your life, free yourself from gadget and unnecessary life-style. I guess that’s way you’ll eliminate your mundane stress of fulfilling a certain level that might not EVER reach FOREVER. Be real!

In Love With Bacharach

Posted by: cippitywitty on: Juli 26, 2007

bb.jpg

Citraland lagi. Aku nggak pernah bosan dengan mall itu. Selalu meriah, mampu berganti suasana mengikuti tren dan jarang tidak dipadati pengunjung. Pokoknya, seru deh!

Setelah membuat seorang sahabat happy dengan fasilitas diskon belanja buku di Gramedia, kami turun ke lantai dasar. “Cip, ke tempat jus langganan dulu ya?” pinta dia. “Oh-rayt!”

Sampai di lantai dasar, sayup-sayup terdengar sebuah lagu yang familiar di telinga. “..the look of love is in your eyes..” Aku otomatis scanning area di sekitar situ, hampir seperti gerakan refleks anjing percobaan Pavlov yang langsung merasa lapar saat mendengar lonceng berbunyi. Rupanya di depan “Oh La La” ada stand disc-tarra temporer yang sedang dipadati orang-orang. Uh, ada apa sih?

“Ntar gue nyusul, ya. Mau liat CD dulu,” kataku sambil ngeloyor.

Di sana sudah terpajang sederet CD kompilasi “In Love With Bacharach”. Covernya bergambar sudut bangunan bernuansa biru, seksi banget. Sama seksinya dengan lagu-lagu yang dikompilasi di album produksi Universal Record itu. Selain lagu jagoan The Look of Love (yang sudah dinyanyikan hampir semua penyanyi top dunia), ada juga hits macam Say A little Prayer, Raindrops Keep Falling (di-blend dengan cantik bersama Do You Know The Road To San Jose?), Close To You, A House Is Not A House, Trains and Boats and Planes, Make It Easy On Yourself, I’ll Never Fall In Love Again, Alfie, That’s What Friends Are For, dll. Tak pelak, aku langsung membeli 1 keping CD-nya (padahal sudah janji nggak akan belanja apa-apa hari itu) dan tak sabar untuk segera memutarnya.

Aku tuh addicted banget sama komposisi-komposisi ciptaan Burt Bacharach sejak 10 tahun lalu, mungkin lebih. Tepatnya dimulai waktu nonton film Mike Myer, Autin Power (yg pertama, International Mystery Man) sama gang si berat, aku langsung cari-cari OST-nya yang berisi lagu-lagu jadoel di era flower generation. Mike Myer adalah salah satu penggemar berat Burt, sampai-sampai dia menampilkan sang maestro sebagai cameo di semua sequel film konyol ini. Dua karyanya di OST Autin Power yang pertama ini; The Look of Love (Susanna Hoffs) dan What The World Needs Now is Love (Burt Bacharach and The Posies). Alunan easy-listening dan jazzy ambient dari lagu-lagu itu benar-benar mengenai moodku. Dimulailah pencarian informasi dan CD Burt Bacharach. Aku juga giat mengumpulkan CD jazz kompilasi/album yg memuat interpretasi lain dari lagu-lagu gubahan Burt, seperti albumnya Diana Krall, Sergio Mendez, The Carpenters, kompilasi-kompilasi jazz (original atau bajakan). Sikat semua.

Anyway, siapakah Burt Bacharach itu? Buat kita-kita yang di era 70-an masih gagap informasi—karena masih balita atau belum lahir—sudah pasti sama sekali nggak kenal beliau. Konon di masa sebelum tahun 50 dan 60-an, tren industri musik tidak seperti sekarang. Artis musik sekarang kan rata-rata “rakus”, berperan ganda sebagai vokalis/musisi dan pencipta/penggubah lagu. Kalau dulu tuh penyanyi ya nyanyi aja, lagunya dibuatkan oleh komposer/pencipta lirik lagu lainnya. Di album-album jazz—sbg genre musik tertua—judul lagu tidak sebanyak dan seberagam di genre-genre musik lain, soalnya mereka lebih fokus pada “rasa vokal” dibanding “multi-talent ability”.

Nah, Burt menggubah lagu-lagu yang selalu hits. Banyak penyanyi (terutama yg baru memulai karir) “berebut” karya dia. Burt sendiri merupakan seniman yang cukup idealis, jadinya beliau tidak sekadar mengejar komersialisme. Beliau benar-benar memilih artis yang akan menyanyikan karyanya. Salah satu penyanyi pilihannya: Dionne Warwick (budenya Whitney Houston). Warna suara Dionne langsung membuat Burt kepincut. Dimulailah booming hits lewat alunan suaranya. Sebut saja Make It Easy On Yourself, Don’t Make Me Over, Say A Little Prayer, Do You Know The Way To San Jose?, I’ll Never Fall In Love Again, Walk On By, Anyone Who Had A Heart, This Girl In Love With You, dan yg paling anyar: That’s What Friends Are For.

Burt sebenarnya lebih dikenal sebagai komposer (yg membuat musik dari sebuah lagu). Beliau bekerja sama dengan pembuat lirik lagu, Hal David. Mereka di masanya sangat produktif dan menghasilkan lagu-lagu hits, dan kebanyakan disuarakan oleh Dionne Warwick. Trio ini pernah pecah dan kisruh. Mereka saling menuntut satu sama lain karena tidak puas dengan kontrak kerja (so obvious, it’s all about money). Lalu disusul dengan kegagalan perkawinan Burt, muncul lagu-lagu super-mellow yang merefleksikan insiden kehidupan pribadinya. Tapi beneran, lagu-lagu itu (mungkin karena diinspirasi dari pengalaman pribadi sesungguhnya) sangat terasa “dalem”. Banyak loh lagu-lagu mellow yang terasa vibrasi emosinya karena baik yang bawain atau yang bikin lagu, sama-sama punya pengalaman pribadi yang serupa dengan cerita di lagu itu. *Sobbing*

Dan lagu Walk On By merupakan salah satu soundtrack salah satu tragedy di hidupku. Meskipun nada dan beat lagu itu terdengar riang dan fine-fine  aja, tapi lagu itu nggak lain dan nggak bukan adalah mars para cengeng abis. Aku juga ternyata cengeng amit-amit.

Kembali ke CD In Love With Bacharach lagi. Favoritku di album yang lagu-lagunya di-cover version sama penyanyi Filipina ini adalah yang penggabungan lagu Do You Know The Way To San Jose? sama lagu Raindrops Keep Falling. Asyik banget. Pada titik tertentu dari penggabungan keduanya, ada benang merah nada dan rasa lagu yang ternyata bisa dikawinkan. Ya maklum, komposernya kan satu orang itu. Pasti ada nada atau not kunci yang jadi kesukaan Burt. The Look of Love dan Make It Easy On Yourself-nya juga asyik, bikin aku jadi pengin ikutan berdendang. Cuma ada satu flaw di album ini, dan sama sekali tidak terkait sama Burt Bacharach; tendensi para penyanyinya untuk berimprovisasi dengan berlebihan! Nggak perlu lah, ini bukan album musik R’n B. Soalnya kadang-kadang mereka malah jadi out-of-note alias fales! Ganggu ‘kan?

 

Well over all it’s worth its pricey tag. Dan aku rasa semua orang akan dengan mudah menikmati album ini, di mana aja. Saat sedih dan gembira, lagu-lagu mellow Burt sungguh menenangkan jiwa. Cieh.

Classic dessert: Caramel Pudding

Posted by: cippitywitty on: Juli 26, 2007

caramel_pudding_smaller.jpg

PUDING KARAMEL

Bahan:
750 ml susu cair
3 btr telur ayam
250 gr gula pasir

Untuk karamelnya :
3 sdm gula pasir dimasak di atas api kecil. Setelah meleleh tambahkan 1 sdm air. Lalu aduk, jangan sampai lengket.

Cara membuat:
Kocok telur dan gula hingga mengembang, lalu tambahkan susu cair aduk dengan speed rendah. Setelah tercampur rata, didihkan di atas api sedang. Setelah mendidih, sisihkan.

Guyurkan karamel di dasar loyang. Pastikan sudah agak mengeras, lalu tuang adonan susu yang telah matang, panggang di oven dgn panas 180′C selama 10 menit. Kalau sudah matang, angkat dan siap dinikmati.

Saran penyajian: Cetakkan puding ini ke mangkok kecil-kecil. Cara memakannya, disendok dengan sendok teh. Paling enak/mengundang selera saat kita sendok/potong puding, lantas karamelnya mencair. Mm…

Keterangan tambahan: Susunya bisa memakai susu UHT biar lebih sehat. Gulanya bisa kita sesuaikan tingkat kemanisannya. Ketika mengaduk karamel harus sabar karena untuk membuat karamel dari gula pasir harus perlahan-lahan, karena kalau terburu-buru nanti malah gosong dan akhirnya menghasilkan karamel yang pahit.

Nyam, nyam!

Tuhan tidak pernah menyakiti

Posted by: cippitywitty on: Juli 18, 2007

sorrow

Aku pernah bertanya kepada Sang Pencipta dalam kontemplasiku, sebenarnya bagaimana kita harus bertindak dalam laku yang mencerna makna? Ketika kebaikan dan penderitaan datang dan pergi dalam tempo yang berdampingan, adakah daya kita sebagai komponen kehidupan untuk lebih bijaksana menyikapi aliran cobaan itu? Aku pagu dan ragu jika suatu rizki dari tangan makhluk lain harus disyukuri dengan cara meramu kebaikan yang menggugu.

Aku dulu berpikir jika ada kebaikan yang diterima dari sesama, sungguh pantas dibalas dengan berlipat-lipat. Harapanku kelak kebaikannya terus mengalir padaku dan kami memiliki tali silaturahmi yang kukuh. Sampai suatu kali Tuhan mengingatkanku bahwa umatNya hanyalah manusia sahaya (alatNya menyampai berita), rawan cela, dan tak pernah alpa berubah sikap. Pelajaran yang berharga dan menguatkan jiwa, kini tak pernah ada setitik pun balas dan jasa atas semua buah tindakan; “Tuhan, hamba adalah pusat lingkaran semesta kecil hamba sendiri yang kian melengkapi diri dengan semua hal yang diperlukan. Hamba yakin dengan padunya semesta ini, hamba tak terlalu membutuhkan pertolongan lagi.” 

Hidupku kugantungkan dalam untaian doa kepada Pemilik Jagad Raya. Namun bukannya tiada halangan; seringkali kita mendamba sesuatu hal dan menyampaikan permintaan kita kepada Tuhan lewat doa dan pengharapan. Tapi sejauh kita menanti, asa kian diuji. Bukannya pinta yang dijawabNya, justru nestapa datang bersama duka. Kita tak putusnya diadu dengan gempuran badai rasa tidak percaya, emosi jiwa, dan nirlogika.

Tapi aku bersyukur ditempa kapak dan sangkur, aku tak akan pernah tersungkur. Di sekejap hirup napas yang belum pula puas, aku melambung ke awan yang putihnya mengepung: “Tuhan, hamba minta yang lebih nista! Hamba kini mengais hari untuk sebatang cemeti berduri. Penderitaan dan kesulitan hidup berasa sirup yang melegakan. Siksa hamba dengan pelajaran betapa hidup ini keras dan melelahkan!  Biar lepas semua duka dan luka akan penantian berada di dekatMu.” 

Tuhan, hambaMu ini yang menantang datangnya cobaan. <em> Engkau tak pernah menyakiti ciptaanMu.</em> Bukakan hati hamba, Ya Rahman! Biar debur empati mampu menyusup masuk ke aliran vena dan menyeruak menerjang birunya hatiku.

trying to reminiscing here..

alright, what's wrong with worn-out memory? people get older every minutes their brain cells unable to hold important matters anymore. yet I will fight, stand still, stay put, hold my breath, close my eyes, wishing hard I can keep my youth and restrain what people believe as natural dysfunctional phase. I don't wanna lose these beautiful, rewarding experiences God has given me in this short-term journey. why, o why things must be washed away and robbed forcefully from us along the way to the real eternity? should I take it for granted, that all these are merely illusions, so I'll be able to let 'em go, banish from my li'l mind drawer? migosh, what am I talking about? forget already. whatever. nevermind.

Blog Stats

  • 2,727 hits

 

November 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kategori

Flickr Photos

onyong 03

onyong 02

onyong 01

More Photos
Watch videos at Vodpod.