Posted by: cippitywitty on: Januari 22, 2009
Ada suasana haru-biru yang (nggak perlu) terjadi kemarin malam; momen pelantikan presiden Amerika terbaru, Barrack Hussein Obama. Sejak sore sampai detik terakhir kesadaran diri terjaga, yg jadi buah bibir adalah peristiwa itu. Mulai dari teman-2 di kantor, status-2 di messenger atau di fesbuk, obrolan ringan sesama penumpang kendaraan umum, berita-2 di koran dan televisi, bahkan ibu saya, semuanya berebut ingin ikut terlibat membicarakan si om Barry. Ucapan selamat, komentar sentimentil, dukungan, prediksi, sampai pembahasan masa lalu ketika masih berdomisili di daerah elit Jakarta, tiba-2 menyingkirkan berita-2 tragis di Palestina atau gosip sensasional Dewi Perssik yg jadian dg seorang artis brondong “sapa-dia” itu. Dan puncaknya, pukul 11 malam wib, si om Barry disumpah sbg Presiden Amerika ke-44.
Saya tidak menonton siaran langsungnya. Memikirkannya pun tidak. Entah mengapa sejak awal hingar-bingar kampanye capres AS, saya nggak terlalu tertarik. Walaupun begitu, saya sempat sekali menonton (sekelebat) perdebatan Obama vs. Mc Cain. Drama perdebatan itu mirip dg kisah-2 heroik ala film-2 Hollywood; ttg perjuangan pejuang dr kaum minoritas melawan ‘pangeran’ keturunan bangsawan. Cara berdebat Obama beraliran klasik, diplomatis, rada idealis & menebar janji-2 surga. Sementara Mc Cain, sang jenderal yg udah opa-2 sekali ini, kental dg aura militerisme. Lagak Mc Cain asli jenderalnya, sok paling tahu dan gesturanya meremehkan. Sejak itulah hasrat mengikuti kelanjutan persaingan keduanya blas hilang. Udah yakin si om bakal menang lawan si opa!
Tapi pagi ini ada kejadian yg membuat saya lebih menghargai “keriaan” kemarin malam. Tepatnya sewaktu ikut menumpang kereta Cirebon Express krn saya ketinggalan KRL Express 0815. Saya duduk di antara seorang lelaki dan perempuan. Laki-lakinya penumpang asli Cirebon Express, si mbak naik bareng saya. Berniat mengisi waktu luang, si mbak pinjam koran yg habis dibaca si lelaki. Sejurus kemudian, dia tersontak, “Aduh, bulu tangan saya sampai berdiri nih!” seru si mbak. Saya lsg berpaling ke arah dia. “Kenapa mbak?” tanya saya sopan. “Ini, pas baca tulisan ‘Barrack Obama masih ingat menyanyikan lagu Indonesia raya dalam upacara pelantikannya.’ Wah, jadi terharu nih!” jawab si mbak sambil nunjuk-2 kolom yg dia maksud. Lalu, dia melanjutkan kegiatan membaca korannya.
Saya jadi ikut-2an bergidik. Saya mengkhayalkan si om itu dg fasih dan lantang menyanyikan Indonesia raya, tentu dg dialek ala Cinta Laura. Kalau kemarin malam ada kejadian spt itu tertangkap kamera televisi, pasti jutaan orang di negeri ini menegak bulu kuduknya. Perasaan bangga, malu (krn baru ngeh udah lamaaa bgt nggak nyanyi lagu kebangsaan sendiri), terharu, bahagia, apa aja, semua campur-aduk jadi satu. Bahkan yg netral-2 dan nggak peduli spt saya, akhirnya tak kuasa membeli satu eksemplar koran ibukota yg memasang foto close-up si om Barry.
Rupanya begitu banyak orang yg menaruh harapan kepada kemenangannya. Harapan agar dia memenuhi janji-2 kampanyenya, harapan utk memimpin perdamaian dunia, dan harapan utk mengubah kesan Amerika yg tidak bersahabat dan anti dunia ketiga. Harapan-2 utk mengubah situasi mjd lebih baik. Semua orang sudah lelah berpolemik dan selalu terantuk kenyataan bahwa Amerika sendiri yg mendalangi segala konflik.
Nah, sekarang saya menambahkan satu lagi pengharapan ke pundak Anda, mister president. Keep your promise and do your best!
Komentar Terakhir