Posted by: cippitywitty on: Juli 11, 2008
Sewaktu naik krl saya melihat seorang pria kantoran paruh baya berpakaian rapi yg berjalan melintas ke gerbong dpn sambil membawa tas ransel hitam berbahan kanvas. Tas itu semodel backpack anak-2 sekolahan sebenarnya, tapi selama jadi anker [anak kereta] saya perhatikan byk sekali org kantoran yg pakai tas ini utk ‘tas utama’ mrk. Ibu-2 juga sering pakai.
Fenomena org kantoran pakai tas ransel mungkin baru timbul bbrp tahun belakangan. Sblmnya tas model messenger persegi berbahan semi kulit atau kalep jadi pilihan org-2 kantoran [bahkan anak-2 mahasiswa meniru]. Buat wanita or ibu-2, tentunya tas-2 feminin ala perempuan jadi pilihan utama. Sempat tuh tas perempuan model persegi panjang [kotak], sangat diminati. Pdhl bentuk yg demikian nggak bisa menyimpan terlalu byk muatan. Akibatnya, selain ‘tas utama’ nan elok tadi, biasanya wanita-2 kantoran msh membawa satu tas lagi.
‘Tas kedua’ ini juga modelnya macam-2. Sempat ada musim dimana kantong-2 blanja dg aneka merk produk atau toko dipakai dg bangga sbg tas kedua. Stlh itu, beredar tas-2 tote dr kain tipis yg biasa digunakan utk jeroan tas [nggak tahu jenis ato nama fabric-nya apa], mulai yg didapat dr off-air event produk tertentu sampai yg blank tanpa sablon apapun. Lanjut lagi, ada tas-2 semi plastik dg sablon tokoh-2 kartun atau sekadar motif yg mencolok mata.
Tas ransel sendiri dulunya dilihat kurang pantas dipakai ke kantor, apalagi yg model dan bahannya biasa digunakan utk naik gunung. Utk para pria, majalah-2 fashion lbh mengarahkan mrk memakai tas kotak kulit [yg tanpa isi pun sdh berat dijinjing], atau tas koper [ini tlalu formal, persis gambaran bpk-2 kantoran di film]. Mungkin krn bahu para pria mulai biru-2 krn keberatan bawaan, para perancang fashion tas pun membuat tas dr bahan semi sintetis yg disebut document bag. Bahan sintetisnya ringan dan plenyat-plenyot, sehingga kalau dislempangkan bentuk tasnya tidak rapi lagi [kecuali kalau diisi sesuatu seukuran tas itu].
Tas ransel kembali happening stlh masa booming laptop dan notebook. Awalnya sih tas laptop itu pasti berbentuk document bag alias sling bag kotak, bahannya mulai dr yg kulit sampai sintetis. Tapi selalu dibuat bulky agar isinya terlindung dr guncangan atau benturan. Akibatnya, tak sedikit pengguna mengeluh pundaknya kelu krn menanggung beban berat. Saat itu solusinya membawa laptop dg tas ransel krn beban ditanggung kedua bahu. Muncullah aneka ragam tas ransel ‘eksklusif’ utk membawa keperluan kantor. Tas-2 ini secara desain lbh kokoh, elegan, kadang diberi kontur-2 tertentu, serta bulky. Ukurannya pun tidak melulu besar ala bapak-2 tinggi kekeur. Ada yg tampaknya dibuat sesuai postur perempuan Jakarta, meskipun tetap kokoh dan bulky. Penerapan prinsip keadilan non-gender marketing lah..
Jadi begitu bapak tadi melintas, pandangan saya beralih objek ke tas berlogo “N” yg dipeluk seorang perempuan berjilbab hijau muda di muka saya. Pelukannya erat, pasti di dalamnya ada laptop atau benda berharga lain, duga saya. Tak ada ‘tas utama’ yg dia gamit. Semuanya sudah terwadahi di satu ransel. Simpel.
Komentar Terakhir