Posted by: cippitywitty on: Mei 27, 2008
SBG PRODUK KELUARAN THN 70-AN, saya pnh mengalami masa “gila sepeda” yakni di awal usia 6 thn. Krn ditakdirkan mjd anggota paling akhir di keluarga, maka saya terbiasa dpt barang-2 eks kakak-2 saya, termasuk kendaraan favorit anak-2 ini. saya dpt lungsuran sepeda merk ASAHI dari abang saya (dia baru dpt BMX) yg bentuknya (mnrt saya) hip sekali: setang lengkung bak harley Davidson, bangku panjang (muat 2 anak) dg senderan tegak-tinggi, serta sebatang antena yg ‘ereksi’ dg congkaknya. Itulah sepeda kebanggaan di masa kecil. Byk kejadian dramatis dan emosional kami bagi bersama, termasuk sebuah insiden ketika saya nyusruk ke belukar berduri krn menghindari bapak-2 gendut keparat yg menghalangi jalan setapak yg menurun. Krn memang rem ASAHI rada-2 blong, maka situasi saat itu meninggalkan saya dua pilihan: antara belok ke kiri belukar berduri, atau ke kanan sawah. Alhamdulillah saya batal mnabrak si bapak-ngehe dan memilih banting kiri. Saya terjerembab dg sukses dan bukannya belukar berduri yg melukai saya, malah kawat rem ASAHI berhasil merobek paha kanan saya sampai terlihat tulang putih itu…
Lain waktu, saya pergi bersepeda ria ke kompleks tetangga dimana teman-2 SD saya tinggal. Saya datangi rmh mrk satu per satu. Rata-2 mrk terkesima dg bentuk sepeda saya yg unik (kuno), dan berkata, “sepeda kamu aneh!” waktu itu saya tidak paham dg termin mental spt aneh, kuno atau baru, malu atau bangga. Memang apa salahnya punya sepeda kuno? Toh kalau kita adu balap, seringnya saya yg menang!
Masa bodohlah dg teman-2 yg mulai membuat saya tidak nyaman, saya memilih pergi dg teman-2 masa kecil lain bersepeda ke tempat-2 jauh. Suatu hari kami mengayuh sepeda sampai ke bojong, mencari bibit ikan cupang utk kemudian dikembangbiakkan oleh teman saya itu. Stlh anak-2 ikannya bertambah besar, dijual dg harga lima ratus rupiah. Itu uang yg sangat besar yg dibuat anak sekecil kami pada masa itu.
Masa kejayaan ASAHI berakhir ketika ayah mengumumkan saya berhak mdpt sepeda baru krn prestasi sekolah. Wah deg-2an dan nervous sekali perasaan saya waktu bersama ayah-ibu menelusuri deretan pedagang sepeda di pasar rumput. Rasanya sepeda yg berjajar di sana melambaikan tangan, me-manggil2 saya, “hai, pilihlah aku!”, “aku akan jadi sahabat terbaikmu!”, “mampir dong, di daleum ada maceum-2 warna ya!” (yg trakir itu spt eunci-2 di ITC.)
Pilihan pun jatuh ke sepeda mini merk SHIMANO warna merah. Cantik sekali. Merahnya laksana cabe kriting ranum yg siap diulek mjd sambel yg pedas luar biasa. Di bagian dpn ada wadah warna hitam, di bagian blkg ada boncengan besi warna hitam juga. Tapi yg paling menarik hati adalah klakson sepeda model futuristik yg kalau ditekan tombolnya akan berbunyi, “tulit-tulit-tuliiiit!” Saya yakin bebek-2 yg menghalangi jalan akan segera berurai mendengarnya.
Saya tidak ingat bagaimana cerita akhir dari ASAHI, tapi kalau tidak salah ibu saya melegonya ke gerobak abu gosok. Remnya memang sdh tidak tertolong lagi, tubuhnya pun mulai ditumbuhi karat. Tidak ada perpisahan yg melankolis waktu itu, lagi pula saya terlalu sibuk dg SHIMANO merah saya.
Masa bersepeda mulai pudar di hidup saya ketika masuk SMP. Entah krn nasib atau memang bodoh, saya terdaftar ke SMP yg letaknya jauh sekali dr rmh. Ibu pun mendaftarkan saya naik jemputan. Hanya bertahan 1 thn. Stlh itu saya berjuang naik mikrolet yg pada waktu itu seringkali menolak mengangkut pelajar. Saya hanya memakai SHIMANO kalau disuruh ibu ke pasar atau ke warung. Dan krn nature sepeda yg merapuh kalau jarang dipakai, SHIMANO pun mulai kehilangan pesonanya, dimakan usia dan karat yg ganas. Seronok warna merahnya kian pudar.
Lalu ada mountain bike merk FEDERAL yg dibeli mahal oleh ayah. Dia mewanti-wanti kami utk tidak mencoba sepeda itu. Warna FEDERAL paduan putih-biru, cerah sekali. Kami tidak ada yg berani memakainya, hanya sesekali memandang dan mengelus sepeda kebanggaan keluarga itu.
Suatu hari ibu memanggil saya. “Kamu tidak pakai sepeda merah itu lagi ya? Diberikan ke anaknya pak supir saja ya? Sepeda itu sdh terlalu pendek ‘kan?” cerocos ibu. Saya mengangguk patuh. Ah, msh ada BMX. Tapi entah kenapa saya merasa kehilangan sekali waktu itu. Dan tak lama ada org yg mencuri BMX abang saya.
Bbrp thn kemudian hadir motor bebek HONDA dan mobil keluarga TOYOTA. Keberadaan sepeda makin tersisih dan tidak lagi menarik minat kami. Di akhir masa SMP saya sering curi-2 meminjam mobil, dan masuk SMA saya memakai motor ke sekolah.
Begitulah. Sampai di akhir thn 2007 saya menemukan seonggok sepeda FEDERAL tua di sudut garasi. Kondisinya parah. 30% bagiannya karatan, kedua bannya sdh getas dan kempes, dan sadelnya merekah. Alih-2 kepribadian jantannya sbg mountain bike, si tua itu saya temukan sdh ditambahi dg boncengan dan wadah barang sehingga terlihat spt sepeda mini yg feminin.
Saya sedih sekali melihatnya. Saya bertekad mengembalikan harkat dan martabat sepeda itu agar kembali berjaya di kehidupan yg fana ini. Dg sisa cat mobil dan harapan kembali memasukkan kegiatan bersepeda dlm keseharian, saya habis-2an mendandani FEDERAL tua agar layak jalan. Voila! Sejak Mei ini saya sdh rutin bersepeda di minggu pagi menelusuri kompleks tetangga, dimana teman SD saya tinggal. Dan kegembiraan bersepeda itu muncul lagi dan merasuki jiwa saya:
“I wanna ride my bicycle, I wanna ride my bike!” (Queen)
Komentar Terakhir