Posted by: cippitywitty on: Januari 17, 2008
Masuk tahun baru, seperti biasa para peramal laris diwawancara ttg apa saja yg bakal terjadi di 2008 oleh televisi-televisi lokal. Terkenal (nggak sengaja) mujarab ramalannya, si ibu Mama Lorens bilang 2008 masih membawa susulan bencana & kecelakaan di semua aspek untuk bangsa Indonesia. Miris banget. Beliau beberapa kali ditangkap kamera secara langsung & sepertinya tanpa persiapan apa-apa (masih pakai daster, rambut awut-awutan, wajah non-riasan). Dari ekspresi fasialnya, tersirat bahwa tahun ini tetap nggak ada harapan buat negeri yg subur & kaya sumber daya alam ini untuk pulih & bangkit spt negara-negara jiran macam Malaysia, Thailand atau Korea.
“Perlombaan” program televisi ramal-meramal ini buatku absurd, sia-sia, sama sekali nggak menghibur (malah bikin sedih!), dan hanya berujung pada pembodohan masyarakat. Apalagi bangsa ini biasa percaya klenik, mitos, hal-hal gaib, wah pokoknya semua hal yg nggak perlu pakai proses berpikir, tambah seru lah media-media televisi itu meracik programnya masing-masing. Rasanya awal tahun ini menjadi momen buat mereka untuk menghipnotis masyarakat untuk harap-harap cemas. Semakin dampaknya membuat khawatir & ketakutan (apa bedanya?), semakin berhasil program ramalan itu. Jadi, bukannya institusi-institusi sarat ilmu macam BMG atau BPPT yg dibikin sibuk & laris disatroni punggawa-punggawa media, kok ya malah penujum yg keahliannya tidak disertifikasi itu yg dituju.
Amat disayangkan. LSM-LSM yg misinya mengawasi media juga tak punya kuku untuk ‘mencakar’ media publikasi yg ngehe’ kelakuannya ini. Bang Ade Armando dulu lantang mengkritik media audio-visual, tapi sayang insiden affair-nya bikin beliau mati gaya. Beberapa orang yg dikukuhkan sbg pengamat media juga nggak berkutik membalas argumen pelaku industri yg mengatasnamakan rating & kepentingan komersial industri.
Aku sih terutama khawatir pada generasi muda yg masih rentan mencerna informasi. Dg kemampuan paparan yg terus-menerus & dibungkus eforia dugem ala selebritis yg menawarkan kehidupan glamor dalam tempo singkat, serupa program ramal-meramal di media televisi harusnya diberangus habis. Data faktual dari BMG & institusi-institusi kehormatan lainnya seharusnya diletakkan di posisi atas rujukan tindakan manusia negeri ini sehingga pemerintah dapat dg efektif memberi edukasi bagaimana merespon gejala alam yg potensinya sudah ada di bumi pertiwi ini (dan tak perlu dipandang mengerikan). Lebih dari itu, ayo dong hargai kerja keras para peneliti kita menghimpun data & melakukan uji indikasi. Hasilnya jelas lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding isapan jempol ibu Mama Lorens itu. Lagi pula, waktu beliau meramalku di ruang rias studio Liputan 6 SCTV 1999 silam, tak secuil pun yg jadi kenyataan..
Sangat disayangkan. Ilmu pengetahuan sudah mati di negeri ini. Dibunuh dg kejam oleh media televisi kita sendiri!
Komentar Terakhir