Posted by: cippitywitty on: Desember 12, 2007
Wabah penyakit akut orang-2 di sekitar saya: bilangnya iya, tapi dalam hati tidak tulus mengiyakan, alias ragu-2. Akhirnya, pengingkaran persetujuan. Tanpa berdosa mengulang kata-2 pamungkas, “Maaf ya, ternyata aku nggak bisa..” dan melenggang pulang.
DZIG! Kenapa orang-2 yang secara pangkat, status & umur sudah bisa dibilang ‘mapan’ itu tega mengoyak hal prinsip & asasi setiap manusia: kepercayaan & harapan?
Tahukah mereka bahwa satu kata afirmasi hasil dari pertanyaan tertutup itu bagi sebagian orang (termasuk saya) menjadi pedoman, pegangan, PEMICU KESEPATAN, ekspresi oral yang menimbulkan rasa aman & nyaman?
Bedebah. Mungkin selama ini mereka mendapatkan semua hal dengan menipu, diwariskan, atau merampok. Makna sebuah kata begitu sering dirusak, dianiaya, dibuat impoten, menjadi absurd.
Tak heran generasi bangsa ini secara ajaib memakai istilah-2 yang tidak pada tempatnya, semata-2 karena ingin terdengar “hebat”. KBBI menjadi hiasan rak buku. Hasil penelitian cerdik-pandai tidak lagi menjadi acuan karena buta & minder dengan istilah ilmiah. Bangsa ini akibatnya mudah dibohongi tetangga sebelah yang lebih melek hukum…
Tampaknya arti kepercayaan kini sudah bernilai rendah. Atau mereka memang sudah tidak punya kepercayaan terhadap diri mereka sendiri? Padahal esensi hidup ini tentang menjaga kepercayaan.
Ya, tapi tidak. Dahsyat sekali dampak kata itu. Ya, tapi tidak. Harusnya saya selalu membawa tape-recorder untuk menjaga janji lawan bicara saya, dan tentunya saya sendiri. Ya, tapi tidak. Seharusnya tidak ada komentar permisif bahwa insiden berkomunikasi seperti itu lumrah karena warisan budaya Jawa (oh, tolong!). Kalau perlu, ada hukuman berat atau denda besar bagi para pelakunya. Biar kapok.
Komentar Terakhir