Posted by: cippitywitty on: Agustus 30, 2007
Sabtu lalu aku diundang meliput acara pesta kemerdekaan di Twinkle Stars Preschool-Cipete. Setelah tempo hari aku datang ke acara tutup tahun mereka di D’Best, aku jadi akrab sama para guru di sekolah itu serta Bu Lely, Principal-nya. Tapi Sabtu itulah kali pertamaku berkunjung ke TK yang aku pikir venue-nya mewah bak Cikal atau Kinderfield. Secara pas perpisahan, murid-murid dan orang tua yang hadir rata-rata orang asing dan kelompok masyarakat yang terlihat gaya hidupnya di atas kelas menengah. Ternyata gedung sekolah ini “standard” hommy, bahkan kurang representatif. Letaknya di pengkolan, daerah elit sih. Tapi kontras aja gaya sederhananya dengan lingkungan yang jelas mewah itu. No wonder Bu Lely has considered to move out the school into a new, better location I’m told.
Basically acara hari itu berisi lomba-lomba ala 17-an dan aksi panggung murid-murid Twinkle Stars. Aku direkomendasi datang sebelum pukul 8 oleh mbak Tuti, karena mereka mau memperlihatkan aksi senam aerobik yang terdengar seru. Tapi akibat hal teknis yang kurang diantisipasi dengan taktis jadinya aku baru sampai pukul 8.30, aerobiknya sudah selesai. Begitu aku datang, Bu Lely langsung menyambut dengan hangat. Rambut sasaknya masih teteup, kali ini di highlight-nya merah menyala. Matching banget dengan eksterior setiap orang hari itu yang berusaha tampil “merah-putih”. Nggak ketinggalan: cincin super blink-blink, paling engga 10 karat deh. Mana ukurannya segede-gede kacang mede, surely stands out among the crowd! Mama-papa yang hadir juga berusaha “kelihatan” dengan caranya sendiri. Btw since this one is an A-level institution, parents are mostly “the-haves” and apparently they concern much to their appearance. So there those manly, clean-shaved, handsome men with latest gadgets stood side-by-side with me. Tough condition, hehehe.
Ada hal yang menarik waktu aku perhatikan bagaimana reaksi anak-anak TK selama acara diselenggarakan; these kids kinda having slightly different passions to August games compare to previous generations. Sementara para guru dan ortu begitu semangat berteriak dan berpartisipasi, anak-anak ini seakan-akan bingung, nggak napsu, dan justru terperanjat melihat orang-orang dewasa di sekitar mereka melompat-lompat karena gemas. Sedari etape pertama–mereka berlomba memasukkan batangan kayu yang di ujungnya diikatkan bendera dwi-warna ke botol berhias merah-putih–sampai ke permainanan yang terakhir–menjadi sasaran para orang tua yang matanya ditutup dengan kain dan tangannya mencoba menyuapkan pisang ke mulut anaknya masing-masing–nggak terlihat tuh ada anak yang antusiasmenya tulus. Bener-bener beda sama masa gue seumur mereka dulu..
Anak-anak orang kaya ini jelas nggak punya semangat berkompetisi, keinginan untuk jadi juara, atau sekadar ‘banci tampil’. Mungkin pikir mereka, ‘kenapa harus capek-capek melakukan hal-hal bodoh untuk hadiah yang tidak seberapa itu?’. Ortu mereka pasti mampu membelikan yang lebih bagus. Nggak capek, cukup dengan one whinning-act to their folks, then voila! They got everything. Padahal semangat berkompetisi dan pengalaman berproses dalam usaha mendapatkan sesuatu adalah nilai penting utama dari kegiatan tujuh belasan ini. Apalah arti kemerdekaan sebagai simbol suatu titik akhir yang didamba semua orang kalau generasi muda bangsanya tidak mewarisi getar proses perjuangan mendapatkannya? Hehehe sounds like I was on of those pejuang deh…
Itulah kenyataannya, arti dan semangat kemerdekaan tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang perlu disyukuri oleh generasi di ujung kesekian ini. Para eks- pejuang Indonesia rata-rata sudah sedha, dan kalaupun ada ya sudah ‘tulalit’, jadi tidak bisa lagi menyampaikan cerita-cerita kepahlawanan dengan napas yang beraroma ‘patriotik’. Sementara anak-anak mereka mungki sudah pekak dengan kisah-kisah perjuangan orang tua mereka sehingga “ill-feel” untuk menceritakannya lagi ke next offsprings. Akibatnya arti ‘merdeka’ menjadi langu, laksana orang di negara tropis memikirkan rasa salju. Absurd. Ditambah lagi kurikulum sekolah kita tak pernah menyinggung skema mendidik anak agar berpikir pada level kritis. Mereka tidak pernah dirangsang mencari makna kata; yang mereka tahu adalah membentuk kata dalam rangkaian yang betul dan ’sophisticated’. Sebodo dengan arti kata, yang penting kalimatnya terdengar hebat dan disesaki kata-kata yang canggih. Yang lebih gila sekarang anak-anak TK dipaksa berbicara dua-bahasa sehingga mereka tidak memiliki pondasi bahasa yang kuat karena harus mengejar kepandaian di dua bahasa itu. Seperti di Twinkle Stars ini, beberapa anak berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan ortunya yang notabene berkulit sawo matang itu. Ah kenapa jadi ngelantur sejauh ini yah?
Yang pasti kemeriahan acara di pagi hari sampai menjelang siang itu cukup mengharukan dan tak lepas dari bidikan semua jenis kamera dan videocam yg digenggam hampir setiap ortu. Anak-anak padat gizi yang sebagian wajahnya campuran bule itu pun tertawa-tawa gembira saat naik ke panggung untuk menerima bingkisan dan berfoto bersama. Tak apa-apa jika di rentang usia muda mereka tak pernah paham arti merdeka, tapi jelas mereka menikmatinya setiap hari. Semoga kelak ada ygn menjelaskan dengan benar apa itu kata ‘merdeka’ sesungguhnya.
Komentar Terakhir