Posted by: cippitywitty on: Juli 18, 2007
Aku pernah bertanya kepada Sang Pencipta dalam kontemplasiku, sebenarnya bagaimana kita harus bertindak dalam laku yang mencerna makna? Ketika kebaikan dan penderitaan datang dan pergi dalam tempo yang berdampingan, adakah daya kita sebagai komponen kehidupan untuk lebih bijaksana menyikapi aliran cobaan itu? Aku pagu dan ragu jika suatu rizki dari tangan makhluk lain harus disyukuri dengan cara meramu kebaikan yang menggugu.
Aku dulu berpikir jika ada kebaikan yang diterima dari sesama, sungguh pantas dibalas dengan berlipat-lipat. Harapanku kelak kebaikannya terus mengalir padaku dan kami memiliki tali silaturahmi yang kukuh. Sampai suatu kali Tuhan mengingatkanku bahwa umatNya hanyalah manusia sahaya (alatNya menyampai berita), rawan cela, dan tak pernah alpa berubah sikap. Pelajaran yang berharga dan menguatkan jiwa, kini tak pernah ada setitik pun balas dan jasa atas semua buah tindakan; “Tuhan, hamba adalah pusat lingkaran semesta kecil hamba sendiri yang kian melengkapi diri dengan semua hal yang diperlukan. Hamba yakin dengan padunya semesta ini, hamba tak terlalu membutuhkan pertolongan lagi.”
Hidupku kugantungkan dalam untaian doa kepada Pemilik Jagad Raya. Namun bukannya tiada halangan; seringkali kita mendamba sesuatu hal dan menyampaikan permintaan kita kepada Tuhan lewat doa dan pengharapan. Tapi sejauh kita menanti, asa kian diuji. Bukannya pinta yang dijawabNya, justru nestapa datang bersama duka. Kita tak putusnya diadu dengan gempuran badai rasa tidak percaya, emosi jiwa, dan nirlogika.
Tapi aku bersyukur ditempa kapak dan sangkur, aku tak akan pernah tersungkur. Di sekejap hirup napas yang belum pula puas, aku melambung ke awan yang putihnya mengepung: “Tuhan, hamba minta yang lebih nista! Hamba kini mengais hari untuk sebatang cemeti berduri. Penderitaan dan kesulitan hidup berasa sirup yang melegakan. Siksa hamba dengan pelajaran betapa hidup ini keras dan melelahkan! Biar lepas semua duka dan luka akan penantian berada di dekatMu.”
Tuhan, hambaMu ini yang menantang datangnya cobaan. <em> Engkau tak pernah menyakiti ciptaanMu.</em> Bukakan hati hamba, Ya Rahman! Biar debur empati mampu menyusup masuk ke aliran vena dan menyeruak menerjang birunya hatiku.
Komentar Terakhir