Posted by: cippitywitty on: Januari 22, 2009
Ada suasana haru-biru yang (nggak perlu) terjadi kemarin malam; momen pelantikan presiden Amerika terbaru, Barrack Hussein Obama. Sejak sore sampai detik terakhir kesadaran diri terjaga, yg jadi buah bibir adalah peristiwa itu. Mulai dari teman-2 di kantor, status-2 di messenger atau di fesbuk, obrolan ringan sesama penumpang kendaraan umum, berita-2 di koran dan televisi, bahkan ibu saya, semuanya berebut ingin ikut terlibat membicarakan si om Barry. Ucapan selamat, komentar sentimentil, dukungan, prediksi, sampai pembahasan masa lalu ketika masih berdomisili di daerah elit Jakarta, tiba-2 menyingkirkan berita-2 tragis di Palestina atau gosip sensasional Dewi Perssik yg jadian dg seorang artis brondong “sapa-dia” itu. Dan puncaknya, pukul 11 malam wib, si om Barry disumpah sbg Presiden Amerika ke-44.
Saya tidak menonton siaran langsungnya. Memikirkannya pun tidak. Entah mengapa sejak awal hingar-bingar kampanye capres AS, saya nggak terlalu tertarik. Walaupun begitu, saya sempat sekali menonton (sekelebat) perdebatan Obama vs. Mc Cain. Drama perdebatan itu mirip dg kisah-2 heroik ala film-2 Hollywood; ttg perjuangan pejuang dr kaum minoritas melawan ‘pangeran’ keturunan bangsawan. Cara berdebat Obama beraliran klasik, diplomatis, rada idealis & menebar janji-2 surga. Sementara Mc Cain, sang jenderal yg udah opa-2 sekali ini, kental dg aura militerisme. Lagak Mc Cain asli jenderalnya, sok paling tahu dan gesturanya meremehkan. Sejak itulah hasrat mengikuti kelanjutan persaingan keduanya blas hilang. Udah yakin si om bakal menang lawan si opa!
Tapi pagi ini ada kejadian yg membuat saya lebih menghargai “keriaan” kemarin malam. Tepatnya sewaktu ikut menumpang kereta Cirebon Express krn saya ketinggalan KRL Express 0815. Saya duduk di antara seorang lelaki dan perempuan. Laki-lakinya penumpang asli Cirebon Express, si mbak naik bareng saya. Berniat mengisi waktu luang, si mbak pinjam koran yg habis dibaca si lelaki. Sejurus kemudian, dia tersontak, “Aduh, bulu tangan saya sampai berdiri nih!” seru si mbak. Saya lsg berpaling ke arah dia. “Kenapa mbak?” tanya saya sopan. “Ini, pas baca tulisan ‘Barrack Obama masih ingat menyanyikan lagu Indonesia raya dalam upacara pelantikannya.’ Wah, jadi terharu nih!” jawab si mbak sambil nunjuk-2 kolom yg dia maksud. Lalu, dia melanjutkan kegiatan membaca korannya.
Saya jadi ikut-2an bergidik. Saya mengkhayalkan si om itu dg fasih dan lantang menyanyikan Indonesia raya, tentu dg dialek ala Cinta Laura. Kalau kemarin malam ada kejadian spt itu tertangkap kamera televisi, pasti jutaan orang di negeri ini menegak bulu kuduknya. Perasaan bangga, malu (krn baru ngeh udah lamaaa bgt nggak nyanyi lagu kebangsaan sendiri), terharu, bahagia, apa aja, semua campur-aduk jadi satu. Bahkan yg netral-2 dan nggak peduli spt saya, akhirnya tak kuasa membeli satu eksemplar koran ibukota yg memasang foto close-up si om Barry.
Rupanya begitu banyak orang yg menaruh harapan kepada kemenangannya. Harapan agar dia memenuhi janji-2 kampanyenya, harapan utk memimpin perdamaian dunia, dan harapan utk mengubah kesan Amerika yg tidak bersahabat dan anti dunia ketiga. Harapan-2 utk mengubah situasi mjd lebih baik. Semua orang sudah lelah berpolemik dan selalu terantuk kenyataan bahwa Amerika sendiri yg mendalangi segala konflik.
Nah, sekarang saya menambahkan satu lagi pengharapan ke pundak Anda, mister president. Keep your promise and do your best!
Posted by: cippitywitty on: Juli 25, 2008
I just read a book, a Japanese folklore, about discarding elderly people in a mountain. This tale has been handed down in the oral tradition from generation to generation among Japanese. A source said that many had modificated it into rather different versions. Yet these tales are only caused any hearts to swell with sorrow. Considered as one of the national heritage, this tale has been produced in a picture book for children.
Here’s the sort, simple story of Obasute:
In ancient times in the Province of Shinano there was a feudal lord who hated old people. So he decreed throughout the land that when old people became seventy years of age, they were, without exception, to be taken to the mountains and left there. One bright moonlit night a young farmer climbed up a mountain carrying his mother on his back. Since his mother had reached the age of seventy, he had to discard her there. However, the young man could not bear the thought of leaving her there–no matter what! He brought her back home again, dug a hole under the floor so no one would see her, and hid her there. About this time, an envoy from a neighboring province appeared before the feudal lord and laid down a very difficult proposal. He posed three problems, and if these were not solved, the Province of Shinano would be attacked and destroyed. The three problems were: to make a rope out of ashes; to pass a thread through a nine-sided jewel; and to make a drum beat by itself. The feudal lord was perplexed, and he issued a proclamation throughout the land calling upon the wise men to solve these difficult problems. When the young farmer told this to his mother, who was hidden under the floor, the mother instantly explained to him how the problems could be solved. The young farmer immediately went to the home of the feudal lord and told him. Because of this the province was able to be saved from its difficulties. On learning from the young man that all this was due to the wisdom of an old woman, the feudal lord became enlightened, and without any further hesitation he proceed to abolish the decree.
So went the story. Now the appearence of the picture book:
The colored frontispiece was a drawing of a young man wearing a hood like the headgear of court nobles. Carrying his aged mother on his back, he was making his way through the thick underbrush as he climbed up a steep mountain. The mother’s hair was white but her face seemed exceedingly young, so that the combination produced a slightly weird effect. The rays of the full moon tinted the entire scene blue everywhere–the trees and grass and earth–and the shadows of the two people were imprinted in bold relief in black over the ground like spilled ink. It was just a coarse, common picture, but even so the sadness inherent in the story and the scene still rose from the superficies of the character of the picture. For the mind of children, it was probably adequately stimulating.
Imagine this, you carry your mother, or grandma, or any member of your family in your back and take this person up to a mountain and just leave her there alone.. Can you bear that? The idea is sickening! But this is how Japanese been taught to respect of their elder people. To comprehend the nature of highest wisdom that forms throughout years and ages and experiences.
Posted by: cippitywitty on: Juli 11, 2008
Sewaktu naik krl saya melihat seorang pria kantoran paruh baya berpakaian rapi yg berjalan melintas ke gerbong dpn sambil membawa tas ransel hitam berbahan kanvas. Tas itu semodel backpack anak-2 sekolahan sebenarnya, tapi selama jadi anker [anak kereta] saya perhatikan byk sekali org kantoran yg pakai tas ini utk ‘tas utama’ mrk. Ibu-2 juga sering pakai.
Fenomena org kantoran pakai tas ransel mungkin baru timbul bbrp tahun belakangan. Sblmnya tas model messenger persegi berbahan semi kulit atau kalep jadi pilihan org-2 kantoran [bahkan anak-2 mahasiswa meniru]. Buat wanita or ibu-2, tentunya tas-2 feminin ala perempuan jadi pilihan utama. Sempat tuh tas perempuan model persegi panjang [kotak], sangat diminati. Pdhl bentuk yg demikian nggak bisa menyimpan terlalu byk muatan. Akibatnya, selain ‘tas utama’ nan elok tadi, biasanya wanita-2 kantoran msh membawa satu tas lagi.
‘Tas kedua’ ini juga modelnya macam-2. Sempat ada musim dimana kantong-2 blanja dg aneka merk produk atau toko dipakai dg bangga sbg tas kedua. Stlh itu, beredar tas-2 tote dr kain tipis yg biasa digunakan utk jeroan tas [nggak tahu jenis ato nama fabric-nya apa], mulai yg didapat dr off-air event produk tertentu sampai yg blank tanpa sablon apapun. Lanjut lagi, ada tas-2 semi plastik dg sablon tokoh-2 kartun atau sekadar motif yg mencolok mata.
Tas ransel sendiri dulunya dilihat kurang pantas dipakai ke kantor, apalagi yg model dan bahannya biasa digunakan utk naik gunung. Utk para pria, majalah-2 fashion lbh mengarahkan mrk memakai tas kotak kulit [yg tanpa isi pun sdh berat dijinjing], atau tas koper [ini tlalu formal, persis gambaran bpk-2 kantoran di film]. Mungkin krn bahu para pria mulai biru-2 krn keberatan bawaan, para perancang fashion tas pun membuat tas dr bahan semi sintetis yg disebut document bag. Bahan sintetisnya ringan dan plenyat-plenyot, sehingga kalau dislempangkan bentuk tasnya tidak rapi lagi [kecuali kalau diisi sesuatu seukuran tas itu].
Tas ransel kembali happening stlh masa booming laptop dan notebook. Awalnya sih tas laptop itu pasti berbentuk document bag alias sling bag kotak, bahannya mulai dr yg kulit sampai sintetis. Tapi selalu dibuat bulky agar isinya terlindung dr guncangan atau benturan. Akibatnya, tak sedikit pengguna mengeluh pundaknya kelu krn menanggung beban berat. Saat itu solusinya membawa laptop dg tas ransel krn beban ditanggung kedua bahu. Muncullah aneka ragam tas ransel ‘eksklusif’ utk membawa keperluan kantor. Tas-2 ini secara desain lbh kokoh, elegan, kadang diberi kontur-2 tertentu, serta bulky. Ukurannya pun tidak melulu besar ala bapak-2 tinggi kekeur. Ada yg tampaknya dibuat sesuai postur perempuan Jakarta, meskipun tetap kokoh dan bulky. Penerapan prinsip keadilan non-gender marketing lah..
Jadi begitu bapak tadi melintas, pandangan saya beralih objek ke tas berlogo “N” yg dipeluk seorang perempuan berjilbab hijau muda di muka saya. Pelukannya erat, pasti di dalamnya ada laptop atau benda berharga lain, duga saya. Tak ada ‘tas utama’ yg dia gamit. Semuanya sudah terwadahi di satu ransel. Simpel.
Posted by: cippitywitty on: Juli 4, 2008
“A chance to be rewarded will come your way, but it is a scenario of right place, right time. If your pursuits are out of balance, things will not be too spectacular today. If things seem as you know they should be, look for fate to smile upon you.” –Keen Horoscope’s daily prediction for Scorpion
FINALLY I ACHIEVED THIS AMAZING, subliminal enlightenment about my pre-production’s creative house. Aside from lousy schedules and imperfect deadlines, my greatest satisfaction laid widely upon the joy I brought to my freelance fellows. I just realized how grateful they are having this opportunity to be in partnership—although the capital value is still below average. God, we’re working under paid, ha ha ha…
And last weekend I had a meeting with my translation’s team member, Poppy and Dani. It was in Bakmi GM Melawai, a pretty coincident choice that eventually accommodated every one’s. Poppy has her weekly session in Effata Church located just across the venue, while Dani’s home is in around Kebayoran. Me? Been a long time never had bakmi special GM…
So there we were, Poppy and I, before Dani arrived, enjoying our bowl of noodle and chatting around. She told me her reason of resigning her work in BII card center and eagerly wanted to focus on this translation project. Conversely, I had had this notion to give up making contribution even only for some chapters. I decided to quit reducing my nap. I need this unproductive time to really relax and recharge my body and mind, I said. So it seemed that we’re clicked alright in this matter.
My friend Poppy has changed a lot since the last time I mingled with her. She used to be a leading vocalist in a Cranberries’ cover-version band. She was so Dolores, and I admired her. She’s one of a kind; rather lived in the way she believed in, converted to Christian, and married to an old musician guy. That’s her choice. I caught no sign of regretting at all. Now as a mother of three, my friend turned into a very thoughtful woman with responsibility to bring up hers for a better education. She cares nothing but her family. By doing this translation in her home then she can manage to take care of her hubby and the children. This project has enabled her to fulfill her needs.
Jes like what did occur to Dani as well. I think this project had endorsed her to achieve more in her life. She got a laptop already, that’s something. Wow, I’m so proud to be able to help others to get whatever they wish to have! Aside from our pleasurable moment when we get together, having yum-yum lunch or dinner, discussing more or less important stuff and all. By having this project then Dani and I step up to wisely encrave our reason to meaning our meetings every time.
Well, ultimately all these frenzy pre-production business had its best part for me. Not only provide me enough good books supply to read and quite significant additional income, but also a line of people (friends) with unique—mostly intelligent and kind—and faithful personalities who is simply reliable. This is one hell of extra-ordinary thing for me. Thank God.
Posted by: cippitywitty on: Mei 27, 2008
SBG PRODUK KELUARAN THN 70-AN, saya pnh mengalami masa “gila sepeda” yakni di awal usia 6 thn. Krn ditakdirkan mjd anggota paling akhir di keluarga, maka saya terbiasa dpt barang-2 eks kakak-2 saya, termasuk kendaraan favorit anak-2 ini. saya dpt lungsuran sepeda merk ASAHI dari abang saya (dia baru dpt BMX) yg bentuknya (mnrt saya) hip sekali: setang lengkung bak harley Davidson, bangku panjang (muat 2 anak) dg senderan tegak-tinggi, serta sebatang antena yg ‘ereksi’ dg congkaknya. Itulah sepeda kebanggaan di masa kecil. Byk kejadian dramatis dan emosional kami bagi bersama, termasuk sebuah insiden ketika saya nyusruk ke belukar berduri krn menghindari bapak-2 gendut keparat yg menghalangi jalan setapak yg menurun. Krn memang rem ASAHI rada-2 blong, maka situasi saat itu meninggalkan saya dua pilihan: antara belok ke kiri belukar berduri, atau ke kanan sawah. Alhamdulillah saya batal mnabrak si bapak-ngehe dan memilih banting kiri. Saya terjerembab dg sukses dan bukannya belukar berduri yg melukai saya, malah kawat rem ASAHI berhasil merobek paha kanan saya sampai terlihat tulang putih itu…
Lain waktu, saya pergi bersepeda ria ke kompleks tetangga dimana teman-2 SD saya tinggal. Saya datangi rmh mrk satu per satu. Rata-2 mrk terkesima dg bentuk sepeda saya yg unik (kuno), dan berkata, “sepeda kamu aneh!” waktu itu saya tidak paham dg termin mental spt aneh, kuno atau baru, malu atau bangga. Memang apa salahnya punya sepeda kuno? Toh kalau kita adu balap, seringnya saya yg menang!
Masa bodohlah dg teman-2 yg mulai membuat saya tidak nyaman, saya memilih pergi dg teman-2 masa kecil lain bersepeda ke tempat-2 jauh. Suatu hari kami mengayuh sepeda sampai ke bojong, mencari bibit ikan cupang utk kemudian dikembangbiakkan oleh teman saya itu. Stlh anak-2 ikannya bertambah besar, dijual dg harga lima ratus rupiah. Itu uang yg sangat besar yg dibuat anak sekecil kami pada masa itu.
Masa kejayaan ASAHI berakhir ketika ayah mengumumkan saya berhak mdpt sepeda baru krn prestasi sekolah. Wah deg-2an dan nervous sekali perasaan saya waktu bersama ayah-ibu menelusuri deretan pedagang sepeda di pasar rumput. Rasanya sepeda yg berjajar di sana melambaikan tangan, me-manggil2 saya, “hai, pilihlah aku!”, “aku akan jadi sahabat terbaikmu!”, “mampir dong, di daleum ada maceum-2 warna ya!” (yg trakir itu spt eunci-2 di ITC.)
Pilihan pun jatuh ke sepeda mini merk SHIMANO warna merah. Cantik sekali. Merahnya laksana cabe kriting ranum yg siap diulek mjd sambel yg pedas luar biasa. Di bagian dpn ada wadah warna hitam, di bagian blkg ada boncengan besi warna hitam juga. Tapi yg paling menarik hati adalah klakson sepeda model futuristik yg kalau ditekan tombolnya akan berbunyi, “tulit-tulit-tuliiiit!” Saya yakin bebek-2 yg menghalangi jalan akan segera berurai mendengarnya.
Saya tidak ingat bagaimana cerita akhir dari ASAHI, tapi kalau tidak salah ibu saya melegonya ke gerobak abu gosok. Remnya memang sdh tidak tertolong lagi, tubuhnya pun mulai ditumbuhi karat. Tidak ada perpisahan yg melankolis waktu itu, lagi pula saya terlalu sibuk dg SHIMANO merah saya.
Masa bersepeda mulai pudar di hidup saya ketika masuk SMP. Entah krn nasib atau memang bodoh, saya terdaftar ke SMP yg letaknya jauh sekali dr rmh. Ibu pun mendaftarkan saya naik jemputan. Hanya bertahan 1 thn. Stlh itu saya berjuang naik mikrolet yg pada waktu itu seringkali menolak mengangkut pelajar. Saya hanya memakai SHIMANO kalau disuruh ibu ke pasar atau ke warung. Dan krn nature sepeda yg merapuh kalau jarang dipakai, SHIMANO pun mulai kehilangan pesonanya, dimakan usia dan karat yg ganas. Seronok warna merahnya kian pudar.
Lalu ada mountain bike merk FEDERAL yg dibeli mahal oleh ayah. Dia mewanti-wanti kami utk tidak mencoba sepeda itu. Warna FEDERAL paduan putih-biru, cerah sekali. Kami tidak ada yg berani memakainya, hanya sesekali memandang dan mengelus sepeda kebanggaan keluarga itu.
Suatu hari ibu memanggil saya. “Kamu tidak pakai sepeda merah itu lagi ya? Diberikan ke anaknya pak supir saja ya? Sepeda itu sdh terlalu pendek ‘kan?” cerocos ibu. Saya mengangguk patuh. Ah, msh ada BMX. Tapi entah kenapa saya merasa kehilangan sekali waktu itu. Dan tak lama ada org yg mencuri BMX abang saya.
Bbrp thn kemudian hadir motor bebek HONDA dan mobil keluarga TOYOTA. Keberadaan sepeda makin tersisih dan tidak lagi menarik minat kami. Di akhir masa SMP saya sering curi-2 meminjam mobil, dan masuk SMA saya memakai motor ke sekolah.
Begitulah. Sampai di akhir thn 2007 saya menemukan seonggok sepeda FEDERAL tua di sudut garasi. Kondisinya parah. 30% bagiannya karatan, kedua bannya sdh getas dan kempes, dan sadelnya merekah. Alih-2 kepribadian jantannya sbg mountain bike, si tua itu saya temukan sdh ditambahi dg boncengan dan wadah barang sehingga terlihat spt sepeda mini yg feminin.
Saya sedih sekali melihatnya. Saya bertekad mengembalikan harkat dan martabat sepeda itu agar kembali berjaya di kehidupan yg fana ini. Dg sisa cat mobil dan harapan kembali memasukkan kegiatan bersepeda dlm keseharian, saya habis-2an mendandani FEDERAL tua agar layak jalan. Voila! Sejak Mei ini saya sdh rutin bersepeda di minggu pagi menelusuri kompleks tetangga, dimana teman SD saya tinggal. Dan kegembiraan bersepeda itu muncul lagi dan merasuki jiwa saya:
“I wanna ride my bicycle, I wanna ride my bike!” (Queen)
Posted by: cippitywitty on: Mei 12, 2008
AKHIR PEKAN LALU AKU KE ITC KUNINGAN untuk window-shopping. Saking udah lama nggak kesana, jadilah “gelap mata” ngubek-2 ke segala penjuru toko. Tau dong ITC Kuningan, wah seru bgt dagangannya! Mau kelas butik sampe yg 5-feet, ada. Dan tetep, berakhir dg nge-pool di area “surga” DVD bajakannya. Unsure if it is “nge-pool” ato “get drown” he he he..
Aku harus sebut hari itu hari keberuntungan krn dlm sekali sisir, lsg dpt 3 biji film bagus; Around The Universe (ini udah aku cari dr minggu lalu), Bill (Aaron Eckhart rocks!), daaan.. The Martian Child.
Film yg terakhir ini nggak sengaja aku pilih, benar-2 nggak ada di daftar film buruan. But as I mention previously, that day was my lucky day. This one is hell of a movie!
Apa yg membuat film ini istimewa adalah tema yg sdh lama nggak “dioprek” sm sutradara-2 film komersil: tema parenting. Uniknya lagi, alih-2 ambil jenis masalah anak-2 disabled atau retarded, yg diangkat di film ini justru ttg anak yg punya kecenderungan aneh; mengaku makhluk dr planet Mars.
Sinopsisnya: David (John Cussack) adalah seorang penulis fiksi terkenal yg ketika kecil dikenal sbg anak aneh krn senang menyendiri. Dia baru ditinggal mati istrinya dan stlh itu tinggal bersama seekor anjing bernama Somewhere. Entah dpt ilham dr mana, tiba-2 David memutuskan ingin mengadopsi anak. Tapi entah bagaimana juga David kedapatan jatah anak yg unik; namanya Denis, dia mengaku berasal dr planet Mars. Denis awalnya nggak mau keluar dr kardus krn takut sinar matahari akan merusak kulit sensitif ala Mars-nya. Dia jg memakai ban pinggang dari rangkaian batre-2 bekas yg katanya bermanfaat utk menahan massa tubuhnya yg bisa floating krn gaya gravitasi. Denis jg suka menggantung diri secara terbalik, persis spt kalong. Full deh anehnya! Bersimpati krn merasa memiliki kesamaan, David berusaha keras mjd ‘ayah’ buat Denis dan sedikit-2 mengubah anak itu kembali mjd ‘manusia bumi.’
Dari sudut akting, John Cussack memang tipikal jadi dirinya yg biasa; ordinary guy, witty, adorable (those puppy eyes), but not really into playing hard-to-catch. Ada Amanda Peet yg sptnya dipasang sbg cast ‘hiburan’ tapi cukup memberi kesegaran (who can resist those pretty blue eyes?). Akting si pemeran Denis jg sbnrnya biasa aja. So it’s a regular character-base movie though, none appears extra-ordinary than others.
However, I cried and wept when I watched it. What the heck. In some way or another I felt as one of these weird children who believed in such an imaginative thingy. Oh yes, we’re struggled hard to returned back to reality, that ultimately bites. You should watch it whenever you got time, it’ll become a rewarding moment to treasure.
Posted by: cippitywitty on: April 23, 2008
FEW DAYS AGO I got a job interview invitation from a dotcom company downtown. I couldn’t recall the position I applied when the caller asked me to attend it and bring along my complete CV document. Since my less-healthy condition, I took two days leave and these provided me enough time to prepare things. Then I opened my personal files again, updated some information in my resume and the application letter, and printed ‘em out. A while after I came to my senses that I’ve been working this long, and wondered what I have achieved so far?
Nothing special, to be honest. After my exciting journey of searching ideal work, I landed to this editor job in the biggest printing mass media company and been here for 8 years. Do I feel content?
I had a wonderful time here though when my superior allowed me to create a magazine that was completely coming from my mind. Each and every pieces of it was my obsession, my passionate ideas, and was using a lot of my childhood backgrounds. That time I was on top of my best performance in my career life, I think. I came to this thought that I was not working; I was having fun. Yet I only gainned personal satisfaction. My company never once recognized my hard work. Pity, eh?
I never complained. I keep adapting and adopting to remain good, stable worker with positive attitude. What did I get? Sidejobs. So instead of tortured by reality that bites, I disclose myself to wider possibility. My company never provides me trainings or other opportunities to learn or know useful skills related to my work tasks. I can hardly know the HRD crew. They are so ignorant and exclusive. This is in fact number 1 failure that this company must resolve very soon.
I still stay strong. Call me energetic or dork, but I refused to move out from this hell hole and kept working hard and opened as many opportunity as possible. So there, lots of sidejobs laid in front of me. I took it with gladness, done each of it enthusiastically. Until it came the moment when your body couldn’t keep up with your desire to live to the fullest.
Now I reconsider the other possibility I can take if I move forward and leave my present job. Obviously I will gain back my health, and my luxurious time to catch up my dream to write fictions or exercise my cooking skill. Once I had a conversation with a friend about resigning my work. She said, ‘Why not? You have many talents, you’ll survive. More over, you don’t have anyone you should support.’ Well yes indeed, I pay my own bills and some of mom’s domestic bills of course. But it doesn’t bother me at all. I can safe some, fulfill my basic needs. And I’m not a kind who likes to shop around. My big spend is when I make a trip out of town or abroad. Got my sidejobs covered its cost.
Yeah, why not? I will wait for the dotcom confirmation then. I know I will face another problem and probably have a hard time adjusting. But I must take my step to move out of this box. I must.
Posted by: cippitywitty on: April 8, 2008
“This is the book for anybody who intends to reinvent themselves.”
Saya sdh menyimpan buku ini hampir 1/2 tahun, blm sempat baca krn “sibuk”–in any possible means. Makanya saya bersyukur (let’s say, blessing in disguise) saat saya terkena fettish panic disorder & membuka jln utk jadi commuter. Perjalanan naik KRL ternyata membuat saya punya waktu utk membaca dg nyaman. Maka, terbuka juga akhirnya bungkus plastik buku ini, dan mulailah saya membacanya…
Buku ini ditampilkan seumpama kisah naratif, fiksi, atau novel pada umumnya. Ringan sekali; tidak spt umumnya buku-2 dg tema self-help/self-motivation yg cenderung menggurui atau penuh “step”. Oops, itu penilaian subyektif saya saja. Tapi terbukti buku ini selesai saya baca hanya dlm 4 kali mondar-mandir pakai KRL, dg rata-2 satu perjalanan memakan waktu 1 jam. Cepat ‘kan?
Back to this book, ceritanya ttg seorang salesman bernama Matthew yg sdh bekerja lama di sebuah prshn & mulai jenuh & menurun produktivitasnya. Di luar dunia profesionalnya, Matthew jg sdg menghadapi mslh keluarga. Ujug-2 (nah loh) datang serentetan surat dr guru sejarah SMU-nya, yg isinya menggugah & memompa kembali motivasi Matthew utk meraih mimpinya, yakni mjd spt ayahnya yg seorang salesman hebat. Tahapan demi tahapan mengembalikan kepercayaan diri Matthew sbg individu, seorang salesman, serta kepala keluarga. Hidupnya ber-angsur2 mjd indah, membahagiakan, dan bermakna. Semua mimpinya terwujud dg “mudah”. Sungguh hal yg tak pnh terduga oleh Matthew. Di akhir cerita, Matthew datang mengunjungi rumah gurunya itu. Namun, rupanya sang maestro sdh berpulang ke haribaan-Nya jauh sblm surat-2 yg diterimanya dtg. Jadi, siapa yg menulis & mengirimkannya?
Dari sudut cerita, mungkin yg dijadikan contoh mslh oleh Pak Richards Webster agak kurang dramatis, atau utk saya rada abstrak. Dunia sales sdh lama tidak saya akrabi. Terakhir ya waktu di Multipolar dulu. Secara alur juga agak terlalu “lancar”–mungkin krn proses Matthew mengembalikan kondisi produktivitas profesionalismenya berubah dr “berjuang” jadi “menikmati”–se-akan2 tidak ada lagi hal yg bisa menghambat laju dia. Saya suka sekali dg pendekatan emosional yg kerap dipakai Pak Webster, lantas membuat buku ini jadi manusiawi sekali utk dibaca ulang. He he he maksudnya apa sih itu? Pokoknya kalau pun dibaca ulang (dan pasti dibaca ulang), tdk terasa menggurui atau perasaan lain yg muncul stlh baca buku Steven Covey..
I must say this is the right book in the right moment for me. Read this easy-reading masterpiece if you need encouragement to live your dream once more..
Posted by: cippitywitty on: Februari 3, 2008
Akhir Januari. Kamis sore. Seperti kesepakatan, saya pergi menjemput teman di kantornya yang terletak di Palmerah. Kami rencananya akan menuju toko buku di Matraman untuk membicarakan rencana sesi mendongeng besok minggu. Di luar kebiasaan, teman saya itu membuat saya menunggu lama di parkiran. Entah kenapa sore itu saya ingin segera meninggalkan lingkungan ‘kantor’ dan menuju toko buku. Karena lama, saya memutuskan parkir di area kantor pusat untuk slash kartu karyawan. Tak lama teman saya datang, dan kami segera mengarah ke Matraman.
Jalan Jakarta sore itu layaknya sore-sore lain; padat kendaraan. Karena dari Palmerah, saya terpaksa lewat Pejompongan yang minta ampun padatnya. Bukan rute pilihan. Lalu kami lurus ke arah Manggarai, sebenarnya saya lebih suka putar balik setelah Jalan Tambak dan masuk ke Berlan. Tapi saya malah belok ke Menteng, Diponegoro, dan lurus lagi ke Salemba. Ini juga bukan rute ‘kesukaan’ saya.
Mungkin sudah skenario Tuhan, waktu saya belok dari lampu merah Salemba ke arah Matraman, tepatnya di depan RS Carolus, sebuah bus kota bernomor P7 jurusan Senen-Blok M menghantam sisi kiri Toyota Starlet 91 yang saya kendarai. Saking kerasnya, mobil kecil saya itu terseret hingga ke pembatas busway dan membuat saya panik karena khawatir kalau mobil itu terjungkal. Saya sempat egois hanya memikirkan kondisi mobil, padahal ada satu nyawa yang patut lebih diperhatikan: teman saya yang duduk di bangku kiri depan. Alhamdulillah remukan kaca jendelanya tertahan kaca film. Kalau tidak ada kaca film, bisa jadi pecahannya berhamburan ke dalam dan menancapi wajah teman saya–yang ketika itu warnanya sudah seputih pualam karena shock berat. Kondisi jalanan memang sedang penuh, sehingga bus sial itu tidak bisa melarikan diri. Saya seketika keluar dari mobil untuk meminta pertanggungjawaban sang sopir. Dia itu sempat berkelit, tapi saya didukung masyarakat. Bahkan seorang bapak sudah bersedia meng-back up saya. Saya di atas angin, saya perintahkan si sopir menepi. Dia jalan terus, saya pikir kita akan menuju kantor polisi Matraman. Tapi tidak, dia malah tancap gas belok kanan menuju Jalan Proklamasi. Ya Tuhan, menantang sekali! Timbul jiwa sembalap ala film-film aksi; saya kejar bus itu dan saya potong jalannya tepat di depan kantor Tempo. Bam! Ketangkap kamu!
Ya Tuhan, terus terang waktu itu saya sendiri bingung harus bagaimana mengatasi perkara ini. Kalau pun si sopir kooperatif, apa yang harus saya perbuat kemudian? Bagaimana kalau nanti saya malah jadi buruan dia dan teman-temannya?
Di tengah-tengah perasaan yang berkecamuk, tiba-tiba datanglah motor patroli motor. Petugasnya lalu menanyai saya tentang kejadiannya. Saya jelaskan dengan tenang dan lancar, beliau percaya pada saya. Dia lalu memerintahkan kami menuju ke posko ditlantas di daerah Lapangan Banteng untuk menyelesaikan perselisihan. Seperti dugaan saya, hasilnya buntu. Biaya perbaikan yang kami setujui dibagi dua pun tidak bisa dia penuhi malam itu. Maka bus dia ditahan di kantor polisi sampai nanti saat kami berdua yang berselisih sudah mencapai kesepakatan. Teman saya sangat mendukung, dan saya senang dia tidak berlaku berlebihan. Akhirnya saya memutuskan mengikuti kemauan si sopir–Jepli namanya, mungkin orang tuanya dulu fans Led Zeplin–untuk mencicil biaya perbaikan hingga satu bulan. Tapi tentu bus dia tetap ditahan. Itu yang bikin pria berwajah Sumut itu pusing tujuh keliling.
Sebenarnya saya tidak tega. Kenapa harus dia yang menabrak saya? Kenapa tidak bus Patas AC, atau Lorena, atau kendaraan pribadi saja? Ini sudah kali kedua saya ditabrak bus, yang pertama oleh metromini di daerah Warung Buncit. Waktu itu saya sudah pasrah menerima kejadian itu. Dan meskipun sempat keluar mobil untuk menegur si sopir, saya akhirnya kembali ke mobil dan melepas metromini sialan itu pergi.
Anyway, urusan saya dengan bus P7 berkode 5010 berlanjut ketika Jumat sore saya ditelepon oleh sopir asli bus tadi, Pak Plasidius–Pak Jepli rupanya sopir tembak. Saya sudah juga bertemu dia di kantor polisi waktu malam kejadian itu. Pria yang saya duga berasal dari NTT itu minta bertemu Sabtu lalu untuk ‘menyelesaikan masalah’. Saya datang bersama paman saya yang biasa terlibat masalah-masalah seperti ini. Pak Plasidius dan Pak Jepli sudah menunggu dari pagi, kami datang sekitar pukul 10. Hadir pula Pak Ndang dari perusahaan bus tadi. Saya lalu tersadar, kasus ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab perusahaan itu. Tapi Pak Ndang berkelit perusahaannya tidak bisa menanggung karena Pak Jepli masih terhitung ’sopir baru’. Aneh tapi nyata.
Well begitulah, sampai satu setengah jam kemudian kami masih belum mencapai kesepakatan. Paman saya berkeras pihak mereka memenuhi kewajibannya secepatnya (which I think they MUST!) dan selalu pasang wajah angker. Saya sendiri berusaha bersikap kooperatif dan penuh empati, sesuatu yang mungkin baru saya dapatkan setelah kejadian ini. Saya berbicara dengan jelas, pelan-pelan, sopan, dan penuh senyum. Tidak konfrontatif sama sekali. Ini kualitas baru lainnya yang saya dapat.
Sungguh kejadian yang menjadi titik kulminasi yang mencerahkan. Saya tahu saya seharusnya menangis, merintih, maratap pilu melihat mobil kesayangan saya–yang saya pelihara dengan baik, sepenuh hati, dan tidak pernah saya percayakan kepada orang lain bahkan ibu saya sendiri–hancur berantakan sisi kirinya. Tapi di situlah justru mata hati saya terbuka; apakah ini nilai hidupku? Apakah tragedi ini mengakhiri kebahagian hidup saya? Apakah saya harus marah kepada Tuhan, Pak Jepli, atau siapa pun yang bisa disalahkan? Kalau ya, lantas apa yang saya dapat dari marah-marah itu? Paling-paling kerutan di dahi dan tekanan darah tinggi.
Jadi saya memutuskan untuk menikmati apa yang disebut seorang teman dalam SMS penuh simpatinya sebagai ‘musibah’. Oh tidak nona, ini justru hadiah istimewa dari Tuhan untuk saya! Saya senang bisa berurusan dengan keribetan pencarian solusi masalah ini. Tiba-tiba ‘wajah seram’ Pak Jepli dan Pak Plasidius berubah menjadi ‘wajah manusia’ di mata saya. Tiba-tiba saya dalam hati berdoa semoga kehidupan mereka berdua menjadi lebih baik setelah kejadian ini. Saya ingin berteman dengan mereka. Saya bahkan menemukan Pak Plasidius mempunyai cara yang unik ketika tersenyum, dan senyumnya itu sungguh luar biasa menarik..
Begitulah, ini kali kedua saya berkendara dan ditabrak bus kota. Tapi saya tidak pernah menyesalinya. Saya bersyukur di kejadian yang kedua ini teman saya selamat, hanya mobil saja yang remuk. Bisa diperbaiki. Saya juga bersyukur ternyata banyak teman yang bersimpati, saya merasa tidak sendiri. Saya juga bersyukur karena saya bisa mengistirahatkan mobil itu sejenak setelah kesetiaannya menemani saya hampir setiap hari. Begitu banyak syukur-syukur lainnya yang saya yakin akan datang bertubi-tubi setelah ini. Pada akhirnya, saya bersyukur menjadi diri saya yang seperti ini adanya, yang ternyata begitu mudah menerima pelajaran hidup dan bertekad untuk menikmati hidup.
Posted by: cippitywitty on: Januari 17, 2008
Masuk tahun baru, seperti biasa para peramal laris diwawancara ttg apa saja yg bakal terjadi di 2008 oleh televisi-televisi lokal. Terkenal (nggak sengaja) mujarab ramalannya, si ibu Mama Lorens bilang 2008 masih membawa susulan bencana & kecelakaan di semua aspek untuk bangsa Indonesia. Miris banget. Beliau beberapa kali ditangkap kamera secara langsung & sepertinya tanpa persiapan apa-apa (masih pakai daster, rambut awut-awutan, wajah non-riasan). Dari ekspresi fasialnya, tersirat bahwa tahun ini tetap nggak ada harapan buat negeri yg subur & kaya sumber daya alam ini untuk pulih & bangkit spt negara-negara jiran macam Malaysia, Thailand atau Korea.
“Perlombaan” program televisi ramal-meramal ini buatku absurd, sia-sia, sama sekali nggak menghibur (malah bikin sedih!), dan hanya berujung pada pembodohan masyarakat. Apalagi bangsa ini biasa percaya klenik, mitos, hal-hal gaib, wah pokoknya semua hal yg nggak perlu pakai proses berpikir, tambah seru lah media-media televisi itu meracik programnya masing-masing. Rasanya awal tahun ini menjadi momen buat mereka untuk menghipnotis masyarakat untuk harap-harap cemas. Semakin dampaknya membuat khawatir & ketakutan (apa bedanya?), semakin berhasil program ramalan itu. Jadi, bukannya institusi-institusi sarat ilmu macam BMG atau BPPT yg dibikin sibuk & laris disatroni punggawa-punggawa media, kok ya malah penujum yg keahliannya tidak disertifikasi itu yg dituju.
Amat disayangkan. LSM-LSM yg misinya mengawasi media juga tak punya kuku untuk ‘mencakar’ media publikasi yg ngehe’ kelakuannya ini. Bang Ade Armando dulu lantang mengkritik media audio-visual, tapi sayang insiden affair-nya bikin beliau mati gaya. Beberapa orang yg dikukuhkan sbg pengamat media juga nggak berkutik membalas argumen pelaku industri yg mengatasnamakan rating & kepentingan komersial industri.
Aku sih terutama khawatir pada generasi muda yg masih rentan mencerna informasi. Dg kemampuan paparan yg terus-menerus & dibungkus eforia dugem ala selebritis yg menawarkan kehidupan glamor dalam tempo singkat, serupa program ramal-meramal di media televisi harusnya diberangus habis. Data faktual dari BMG & institusi-institusi kehormatan lainnya seharusnya diletakkan di posisi atas rujukan tindakan manusia negeri ini sehingga pemerintah dapat dg efektif memberi edukasi bagaimana merespon gejala alam yg potensinya sudah ada di bumi pertiwi ini (dan tak perlu dipandang mengerikan). Lebih dari itu, ayo dong hargai kerja keras para peneliti kita menghimpun data & melakukan uji indikasi. Hasilnya jelas lebih bisa dipertanggungjawabkan dibanding isapan jempol ibu Mama Lorens itu. Lagi pula, waktu beliau meramalku di ruang rias studio Liputan 6 SCTV 1999 silam, tak secuil pun yg jadi kenyataan..
Sangat disayangkan. Ilmu pengetahuan sudah mati di negeri ini. Dibunuh dg kejam oleh media televisi kita sendiri!
Komentar Terakhir